Showing posts with label Curhat. Show all posts
Showing posts with label Curhat. Show all posts

Tuesday, May 7, 2019

Alasan apa lagi yang ku gunakan untuk menghindari Ramadhan?


Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh!

Yak, sudah hampir lebih dari setahun, penulis tidak menyentuh blog ini lagi (sedih). Pun dari kualitas diri, penulis rasa sudah turun sangat drastis, sehingga ke PD-an penulis dalam berbagi hikmah pun berkurang... Semoga ini bisa jadi titik balik dari penulis.

========================================================================

Penulis sangat ingat bahwa ramadhan tahun lalu adalah termasuk ramadhan paling buruk sepanjang hidup penulis.
Mengapa bisa begitu? Penulis curhat sedikit ya, sambil banyak alasan agar bisa ngeles hehe

Pertama, penulis baru saja mengundurkan diri dari BMKA Salman ITB. Disamping sudah genap satu tahun bekerja disana, penulis juga diminta orangtua untuk mengambil pekerjaan yang sesuai dengan jurusan penulis. Tahukah teman-teman? Pemikiran penulis saat itu sering bertentangan dengan orangtua, termasuk dalam hal pekerjaan ini, hehe.

Namun alhamdulillaah penulis langsung mendapatkan kesempatan untuk magang di PT GTSI (penulis melamar secara non-formal). Namun magang ini belum memenuhi kebutuhan penulis secara finansial, mengingat saat itu perusahaan belum punya pemasukan reguler dan belum ada proyek.

Kondisi penulis yang tanpa pendapatan, dan pertengkaran dengan orangtua inilah yang menyebabkan penulis memasuki fase stress, sering depresi. Salahnya penulis saat itu adalah tidak menghibur diri dengan hal-hal rohaniah, tapi malah menenggelamkan diri dalam dunia media sosial dan game.

Kedua - Kondisi finansial penulis yang sulit saat itu menyebabkan penulis memutuskan untuk pulang-pergi dari rumah ke kantor (Kopo-Sarikaso) naik motor. Hal ini menjadi pilihan penulis karena saat itu juga berbarengan dengan adik penulis yang juga pulang-pergi dari rumah ke UPI.

Perjalanan yang menyita waktu paling cepat satu jam (kalau jam pulang normal), tidak penulis gunakan dengan baik. Penulis banyak mendengarkan lagu dan main HP. Saat penulis membonceng, harusnya penulis bisa sambil murajaah. Saat penulis bonceng dengan adik, harusnya penulis bisa sambil tilawah.

Saat pulang dari kantor pun, badan sudah tanggung lelah sehingga cukup sulit untuk mencapai target ramadhan yang biasanya mudah saat ramadhan tahun-tahun sebelumnya.

Ketiga - Penulis saat itu sedang galau tentang pernikahan, yang juga banyak bertengkar dengan orangtua tentang itu. Ya pendapatan saja belum jelas, masa' mau menghidupi anak orang? Penulis bertambah stress, akibat galau pernikahan dan godaan seorang jomblo (serius) semakin besar.

========================================================================


Kini, Allah subhanahu wa ta'ala masih memberikan hamba-Nya untuk menemui ramadhan lagi. Alhamdulillaah kini penulis sudah tidak bertengkar dengan orangtua, sudah memiliki penghasilan sendiri, kantor dengan rumah tinggal menyeberang (serius wkwk), dan juga sudah ada yang memasak untuk sahur dan berbuka.

Namun sedihnya, sudah memasuki hari ke-3 ramadhan tapi diri ini masih belum terbakar juga semangatnya untuk meningkatkan ibadah dan capaian harian. Padahal, ada istri yang harus dibimbing untuk menjadikan ramadhan ini ramadhan terbaik. Kenapa?

Kiranya, penulis tidak meminimalkan kegiatan-kegiatan yang tidak berguna dan receh . Kiranya, penulis punya banyak bercak hitam dari dosa-dosa penulis yang belum dibersihkan. Kiranya, penulis tidak mengisi energi dengan amalan sunnah yang kecil namun berdampak besar.

Kiranya, penulis tidak memprioritaskan bulan Ramadhan, dan mencari-cari alasan sehingga apapun keadaannya, Ramadhan seperti bulan-bulan lainnya. Mungkin, penulis sudah tidak menginginkan Surga sebagai tujuan akhir, dan lebih memprioritaskan pekerjaan dan uang untuk waktu-waktunya. Astagfirullaahal 'adziim, na'udzubillaahi min dzaalik.

Penulis meminta tolong kepada teman-teman yang membaca tulisan ini, do'akan penulis agar diberikan kekuatan untuk menjadikan Ramadhan kali ini menjadi bulan perubahan, sehingga bulan berikutnya penulis bisa lebih baik lagi, kembali menjadi penulis yang rajin menulis di blog, berbagi hikmah, dan mengejar ridho Allah semata.

Jika teman-teman punya kondisi yang mirip dengan penulis, mungkin bisa bagi-bagi pengalamannya kok, mungkin bisa komentar disini atau japri penulis di kontaknya, heheh.

Sekian untuk tulisan kali ini,
Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh


Sunday, April 2, 2017

Wisuda atau Bagi Raport ?

Bismillaah....
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh !

Hai teman-teman, pernah mendengar kalimat seperti judul di atas? Kalimat yang akhir-akhir ini menjadi agak viral di kalangan perguruan tinggi yang sedang merayakan momen wisuda - tampaknya karena ada massa kampus yang niat banget membawa spanduk seperti di bawah:

Asal muasal meme "Wisuda atau Bagi Raport"

Kalau membawa pendamping wisuda (selanjutnya akan disingkat PW) berarti dibilang wisuda, kalau hanya membawa orangtua dan keluarga dibilang bagi raport :))

Tanggal 1 April 2017 lalu, penulis pun mengalami momen wisuda dari suatu institut teknologi di Bandung, dan status penulis bisa dilihat sesuai gambar berikut:


Eh maaf penulis salah unggah, harusnya foto yang ini :

Pendamping Wisuda Penulis

Jadi, status penulis saat 1 April 2017 lalu adalah "Wisuda" ! Yeay~

PW penulis tidak lain dan tidak bukan adalah wanita tercantik di dunia, tak diragukan kemampuan memasaknya, sabar tiada tara, guru-akuntan-istri-ibu-semuajadisatu ! Wanita yang mendebarkan jiwa, merasuk di sukma, terpanut selamanya (penulis sedang berusaha untuk memuji beliau setinggi-tingginya, tapi apa daya wkwk)

Beliau adalah... Ummi* Nurhayati <3

Ummi beserta anak-anaknya dan suaminya, Abi - datang untuk menemani penulis di hari yang kata orang “today is yours”. Banyak teman-teman penulis yang datang memberi selamat ini itu, foto bersama ini itu, tapi mayoritas dari mereka hanya datang di saat yang berbahagia – bahkan sepertinya hanya sedikit yang terbangun di sepertiga malam untuk mendoakan penulis melewati sulitnya masa-masa sebelum wisuda. 

Ingin rasanya.. penulis mengatakan “today is ours” :’)

Keluarga Penulis

Namun bukan berarti penulis tidak menghargai teman-teman yang lain :’) Kalian da best kok! Memang ada saatnya kita senang bersama, susah sendiri *eh bersama maksudnya. Penulis berterima kasih sebanyak-banyaknya untuk pihak yang memberi hadiah, pihak yang cuma minta foto, pihak yang memberi selamat lewat medsos, pihak yang mendoakan secara diam-diam *eh, dan pihak-pihak lainnya :)

Mungkin di lain kesempatan penulis akan membuat tulisan mengenai teman-teman yang datang saat wisuda penulis. In Syaa Allaah.


======================= HIKMAH ===========================

Okay balik lagi ke masalah wisuda atau bagi raport. Beberapa diantara teman-teman mungkin ada yang protes bahwa “Ah penulis bercanda nih, masa bawa keluarga aja dibilang wisudaan, itumah bagi raport!”

Err gini ya teman-teman... Sekilas meme tersebut memang lucu dan penulis pun sempat mem-viralkan quotes tersebut, hingga beberapa menit kemudian teman penulis bernama teh Feranti membagikan meme tersebut dari sudut pandang yang berbeda, yang membuat penulis tersadar dan langsung merasa bersalah.

Respons teh Feranti yang menusuk raga *bukan promosi OA

Dibalik kelucuannya...... rasanya (secara tidak langsung) merendahkan status orang tua penulis. Teman-teman merasa gitu juga, ngga? Seakan-akan orangtua kita itu... ah gitu weh lah, penulis tak bisa menuliskan kata yang tepat untuk menggambarkan hati yang gundah gulana akibat meme ini. Sontak penulis menghapus postingannya dan bertekad untuk menulis blog tentang hal ini... suatu hari nanti... Dan voila ! Jadilah beberapa kalimat dan cerita di atas.

==================================================================

Oh iya karena penulis pernah mengalami hal yang sama.... Bagi teman-teman penulis yang belum wisuda, penulis hanya bisa memberikan semangat! Memang penulis tidak merasakan penderitaan se-lama kalian, tapi penulis juga pernah kok ditinggal wisuda ehe.

Jika butuh curhat atau apapun, teman-teman bisa meminta tolong kepada Allah – Penulis sih mau-mau saja mendengarkan curhatan dan ingiin sekali membantu teman-teman, tapi apa daya kalau penulis hanyalah makhluq yang tidak bisa melakukan apa-apa...

Iyyaaka na’budu – Hanya kepada-Mu lah kami menyembah
Wa iyyaaka nashta’iin – dan hanya kepada-Mu lah kami meminta pertolongan

Hayo, minimal 17 kali bilang seperti itu loh~ Semangat semangat !

Sebagai penutup... Penulis berharap semoga kedepannya tidak meremehkan status orang tua yang sudah mendidik kita hingga akhirnya menjadi pribadi yang seperti ini.. Walau tentu masih banyaak sekali kekurangan yang dimiliki, tapi itu munculnya dari diri penulis :’) Terima kasih ya Allaah, Engkau telah melahirkan dan mendidikku melalui keluarga yang saat ini kumiliki. Ampunilah kesalahanku dan kesalahan kedua orang tuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil.

Terima kasih buat teman-teman yang masih stay tune sama penulis yang ceritanya ga jelas seperti ini :’) Tepuk tangan untuk kalian semua!

Wassalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuh

*Ummi (Bahasa Arab) berarti Ibuku dalam bahasa Indonesia, Abi berarti Ayahku. Ummi - Abi adalah panggilan yang dipakai penulis kepada Ayah dan Ibu penulis.

Monday, March 6, 2017

Kapan Wisuda ?

Bismillaah...
Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh!

Hai kawan-kawan~ Penulis kembali lagi menulis blognya yang sudah lumayan usang hehe. Tulisan ini di dedikasikan terhadap orang-orang yang kepo terhadap status kemahasiswaan penulis. Karena diterpa satu-dua cobaan dan ujian, penulis mencoba mentransfer energi negatifnya menjadi tulisan yang siapa tau bermanfaat dan memberi hikmah kepada kawan-kawan pembaca semua :')

Pertama-tama, penulis ingin memberitahukan bagi kawan-kawan luar ITB, bahwa "jatah" yang disediakan kampus gajah untuk berkuliah adalah maksimal 6 tahun, dengan tingkat kelulusan rata-rata FTMD (fakultas penulis) adalah 5 tahun.

Tentu tetap saja ada yang lulus 3,5 tahun dengan kegiatan kampus yang aktif dimana-mana dan softskill yang mumpuni - ah, terpanut di qalbu*, lah! Namun, itu tidak menjadikan alasan untuk membanding-bandingkan seseorang berdasarkan tahun kelulusannya.

=======================================================================

"Lulus kapan?" Pertanyaan yang acapkali diajukan kepada penulis ketika bertemu dengan seseorang yang merasa dirinya peduli. Penulis dapat mengenali kok, mana yang peduli dan mana yang basa-basi :3 Bukan indra keenam, tapi kalau kata orang itu punya sense perasa tersendiri. Orang yang peduli itu orang yang mengetahui seluk-beluk, naik-turun, dan tajamnya pertugasan penulis, bukan orang yang seenaknya nanya pertanyaan sakral tersebut tanpa memikirkan kondisi penulis.

Penulis pernah membaca komik Bencana Lisan karya Vbi_djenggotten dari teman saya (maaf ga' modal) tentang suatu kisah :
Sebut saja A yang secara asal menanyakan "Kapan nikah ?" kepada B, tanpa memikirkan latar belakang si B. Ternyata B sudah mencoba melamar banyak akhawat namun belum takdirnya untuk menikah. Nah loh, A bisanya nanya doang nih, si B kan jadi teringat masa lalunya heuh.

Daripada menanyakan hal yang berpotensi menyakitkan hati yang ditanya, lebih baik membantunya menyelesaikan masalahnya. Pada cerita tersebut juga disampaikan bahwa akhirnya ada si C yang tidak hanya menanyakan "kapan nikah" tapi juga membantu mengenalkan B pada temannya yang mau menikah juga. Happy ending, deh!

Kasus yang demikian, penulis banyak mengalaminya. Ketika dinasihati sedemikian rupa, alasannya : "Biar dido'akan".... Penulis berbaik sangka saja kalau sang penanya benar-benar mendo'akan penulis. Jangan lupa do'akan penulis saat hujan dan di sepertiga malam ya, jangan cuma pas dinasihatin aja :P

Kalimat tadi adalah nasihat buat penulis agar tidak asal nanya - jika kawan-kawan merasa tersentil dan tersadarkan, itu pasti hidayah dari Allah subhanahu wa ta'ala :) Teruntuk kawan-kawan yang suka ditanya seperti penulis, baiknya berbaik sangka juga dan berterima kasih kepada penanya karena sudah memikirkan kawan-kawan :)

========================================================================

Jadi, lulus kapan? Penulis In Syaa Allaah akan lulus saat wisuda nanti, HAHAHAHAHAH (thank you, Mr. Obvious)
Pada suatu waktu nanti, Allah azza wa jalla telah menuliskan takdir terindah untuk penulis di Lauh Mahfuz. Penulis sekarang hanya perlu berusaha sekeras mungkin, berlepas diri kepada-Nya selepas-lepasnya, dan selalu bersyukur dan berprasangka baik atas pilihan takdir-Nya. Ikhtiar-tawakkal kalau kata kawan-kawan penulis.

"Penulis kan, mapres.. ko bisa belum lulus?" kemapresan penulis hanya hoax yang harus segera dihentikan, dan status mapres seseorang bukan penentu waktu kelulusan

"Penulis kan, cumlaude.. ko bisa belum lulus?" sama aja say, status cumlaude bukan penentu waktu kelulusan seseorang. Bagi penulis, cumlaude atau tidak cumlaude hanya dibedakan dari dapat-boneka-dan-flashdisk-dan-update-status-bijak-dan-panggilan-tambahan-saat-wisuda, nothing more.

Semua punya timeline nya masing-masing. Ada yang lulus cepat, ada yang ga lulus-lulus. Ada yang nikah cepet, ada yang ga nikah-nikah. Ada yang mati cepet, ada yang ga mati-mati (iya kamu, kenapa ga mati-mati sih - canda :P). Semua ada waktunya, tak ada kata terlambat, tak ada kata terlalu cepat, Kita tidak berlomba dengan orang lain, kita berlomba dengan diri kita yang kemarin. Sungguh merugi, orang yang dirinya pada hari ini sama dengan dirinya yang kemarin.

========================================================================

Banyak hikmah yang penulis dapat dari ditundanya kelulusan penulis.

Penulis jadi dapat bertemu dengan berbagai macam orang dengan berbagai latar belakang dan problematika hidup. Membuat penulis sering tertonjok dan merasa kurang bersyukur atas segala yang dihadapi oleh penulis. Bertemu dan dekat dengan seseorang yang punya penyakit parah, dengan seseorang yang broken home, dengan seseorang yang akademiknya terancam, yang bingung bagaimana caranya je Jepang pun ada ^^v

Penulis jadi sadar kalau penulis masih belum sabar, masih banyak update status galau dimana-mana dan banyak curhat kemana-mana. How shameful you are! Masih sering moody dan nyebarin badmood nya kemana-mana.

Penulis juga ditegur langsung oleh Allah subhanahu wa ta'ala :') Akhir-akhir ini sering dapat surat At-Talaq (surat ke 65), yang potongan ayatnya berbunyi :

"... Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar (ayat 2)"

"... Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu (ayat 3)"

"... Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya (ayat 4)"

"... dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya (ayat 5)"

dan yang paling kena,
"... Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan (ayat 7)"

Walau secara teori tau, penulis jarang menerapkannya di dunia nyata. Penulis tahu kalau begini dan begitu, dan harusnya begini dan begitu. Seringkali nasihat dan semangat teman hanya di "ya iyalah itumah common sense". Maafkan penulis kawan-kawan, tolong maafkan.

========================================================================

Sebenarnya, masih banyak yang ingin penulis sampaikan.. namun, entah mengapa rasanya tulisan dalam satu judul ini sudah terlalu banyak ><
Jika Allah mengizinkan, maka penulis akan membuat bagian dua dari -telatnya kelulusan penulis- 

Bahkan dalam telatnya kelulusan yang sekarang pun, penulis sebenarnya yakin bahwa Allah punya rencana dan hikmah hikmah lain untuk penulis. Namun penulis belum menemukan cara yang pas untuk mengekspresikannya lewat status-status media sosial hehe

Sekian dulu dari penulis, semoga kawan-kawan yang sedang berjuang menyelesaikan kuliahnya diberi kekuatan lebih oleh Allah subhanahu wa ta'ala untuk menyelesaikan amanahnya, dan tidak cepat berputus asa seperti penulis :'))

Penulis mohon maaf apabila ada yang tersinggung dengan tulisan ini. Kesamaan peristiwa pada cerita diatas disebabkan oleh kesengajaan penulis :P

Semoga kawan-kawan mendapatkan hikmahnya masing-masing, dan mendapatkan sudut pandang yang lain dari sisi penulis !

Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh

*terpanut di qalbu = ekspresi penulis untuk mengungkapkan rasa kagumnya terhadap orang yang terbaik dan panutan di jiwa

Tuesday, January 10, 2017

Ada Hamdalah di Setiap Musibah

Bismillaah... Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh~

Halo teman-temanku yang kucinta~ Yang setiap hari berusaha menjadi lebih baik dari dirinya yang kemarin, yang selalu berusaha menjadi manusia yang bermanfaat di bumi ini, yang ingin bertemu suri tauladan kita, Rasulullaah -shalawat dan salam semoga tercurahkan kepadanya-

Jangan lupa untuk selalu bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala teman-teman! Apa? Ga dapet kelas favorit? ketiduran pas perang ol akademik? Dapet dosen ampas? IP semester ini turun jadi 3.9 ? Ga lulus-lulus? Ga punya uang? Putus dari pacar? Wahh yang gini ini nih. Kebetulan sekali penulis mau cerita pengalaman tadi siang saat penulis akan bimbingan bersama dosbing 2 di Polban. (Ko Polban ? Sst panjang itu dijelasinnya, nanti In Syaa Allaah ditulis ko per-TA-an penulis seperti apa)

Kembali lagi ke cerita pengalaman penulis. Karena jauh dari rumah, eh kosan kampus, penulis meminjam motor temannya. Semua berjalan baik-baik saja, hingga setelah melewati gerbang bawah, beberapa puluh meter dari kampus Polban... terdengar suara aneh “cklek, grtgrtgrt” (bukaan, ini mah bukan cerita horor pocong ngesot). Motor yang dipinjam penulis tiba-tiba berhenti. Tidak ada perlambatan, langsung berhenti seketika, walaupun mesin motor masih menyala. 

Penulis pun turun dari motornya dan memeriksa keadaan sekitar. Gasp! (alay). Ternyata rantai motornya tersangkut di roda belakang (kebayang ngga? Kalau ngga, nih fotonya)


Karena merupakan seorang pengendara sepeda, spontan saja penulis mencoba menarik rantai dengan kedua tangannya. Apa daya bukanlah sepeda, rantai motor tetap tersangkut meskipun oli membuat kedua tangan penulis menjadi mawut. Mencoba mencari alat-alat di bagasi motor – ada satu-dua obeng dan kunci inggris! Alhamdulillaah... penulis pun mencoba bagaimana caranya agar rantai tidak tersangkut lagi.

Biasa aja sih, ga penuh-penuh amat. Dasar penulis lebay.

Hasilnya tetap nihil. Meskipun tangan penuh oli, penulis mencoba mengabari sang pemilik motor, sekaligus mengabari dosen pembimbing bahwa penulis mengalami beberapa persoalan sehingga tidak dapat datang tepat waktu. Alhamdulillaah.. Beliau mengerti dan mengizinkan saya datang telat.

Celingak-celinguk melihat sekitar, penulis mencoba mencari bala bantuan. Alhamdulillaah... ternyata ada bengkel beberapa meter dari situ.

Langsung shikat dengan bahasa Sunda, rantainya bisa dikeluarin sih, tapi bengkok banget sampai tukang bengkelnya mengeluarkan fatwa : “inimah harus beli lagi A, udah bengkok pisan”* “Ah sawios we A meser deui mah, eta emang tos bengkok kitu” balas penulis. Tapi si tukang bengkelnya tidak patah semangat – dipanggil seniornya yang mungkin ahli meluruskan yang bengkok –  sehingga beberapa menit berlalu, rantainya hampir seperti baru! Yah, walaupun tidak bisa 100% kembali ke kondisi semula karena sifat material rantainya seperti itu. Alhamdulillaah... motornya masih bisa dibetulkan.

Untung rantainya nyangkut dibelakang motor, kalau nyangkutnya di bagian depan bisa-bisa kena mesin – kebelah –harus dilas kalau ngga diganti – wah lebih repot lagi itu :(

Alhamdulillah pas rantainya nyangkut, kecepatan motor saat itu lagi lambat.

Alhamdulillaah pas rantainya nyangkut, jalanan lagi sepi dan gaada kendaran yang nyeruduk dari belakang.

Kehilangan beberapa rupiah saat itu masih belum apa-apa dibandingkan kehilangan nyawa. Atau mungkin kehilangan anggota badan ? Sambil nantinya dirawat di rumah sakit dan mengeluarkan biaya yang lebih besar dibandingkan dengan biaya perbaikan motor di bengkel. Sungguh ternyata Allah itu sayaang banget sama kita, namun ternyata kita (khususnya penulis) masih sering melupakan nikmat yang Dia berikan. Mulai dari nikmat Iman, nikmat Islam, nikmat sehat, nikmat waktu luang, bahkan nikmat untuk mengingat nikmat (bingung ga? hayoloh).

Setelah sampai di Polban, ternyata Bapaknya masih sibuk ini itu sampai beberapa jam kemudian :'D
Kesal? Engga. Alhamdulillaah, dikasih kesempatan waktu luang buat nulis draft kisah ini. Biasanya kalau penulis ngga mulai nulis draft, jadinya suka wacana, hehe.

Cari hikmah di setiap kesulitan yang kita temui. Harap sabar, ini ujian. Ini ujian dari Allah Subhanahu wa Ta'ala :3

Jika kita tidak menemukan hikmahnya, maka percayalah bahwa Allah menyediakan kemudahan setelah kesulitan yang teman-teman alami. Jika teman-teman yakin dengan pasti bahwa gravitasi itu ada, masa' ngga percaya dengan janji Allah yang diucapkan dua kali berturut-turut ?

"Maka sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan." QS Al-Insyirah ayat 5-6

Al-Qur'an yang tidak ada keraguan didalamnya - tercantum "sesungguhnya", kemudian ditulis dua kali! Combo extra auto terharu! :')

Akhir kata, penulis ucapkan terima kasih buat teman-teman. Alhamdulillaah ada yang mau baca pengalaman penulis yang biasa-biasa aja. Penulis hanya ingin membuat reminder buat penulis sendiri kok, Kalau misal teman-teman ikut dapat remindernya ya Alhamdulillaah... :)
Semoga kita menjadi people of "Alhamdulillaah", ada video bagus juga dari ustadz favorit penulis, Nouman Ali Khan - disini - mangga ditonton. 

Wa billaahi taufiq wal hidayah, 
Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh~

Monday, October 24, 2016

How to Handle Writer's Mood Swings - Part 1: Low Self-Esteem

Bismillaah... Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuh guys :)

Pada tulisan kali ini, In Syaa Allaah penulis akan memberitahu beberapa penyebab dan cara yang mungkin berguna buat kamu yang udah kesel sama kecepatan perubahan mood penulis. Kamu juga mungkin bingung apa yang harus dilakukan kalau si penulis ini sedang menularkan mood ini kepada orang-orang sekitarnya. Semoga pengetahuan ini dapat digunakan secara semestinya dan harapannya kamu bisa memberi saran kepada penulis - atau paling tidak, memaklumi keadaan penulis :')

1. Minder dan Guilty
Salah satu penyebab hilangnya mood penulis adalah sesuai judulnya: low self-esteem.
Yak betul sekali ! Seorang penulis yang dibalik cerita-cerita anaknya aktif, bocah, dan kelihatan selalu bahagia - alhamdulillaah, semoga yang diceritakan itu bisa jadi kenyataan - ternyata suka merasa minder.

Rasa minder ini biasanya menjadi parah ketika penulis merasa bersalah saat melakukan satu atau beberapa kesalahan sehingga membuat orang lain merasa illfeel terhadap penulis. Penulis menjadi kesal terhadap ketidakmampuan atau ketidakbecusan dirinya sendiri (penulis itu orangnya terlalu memikirkan pendapat orang lain tentang dirinya). Akibatnya, penulis menjadi (sangat) murung dan enggan untuk bergerak aktif. Jika kamu-kamu melihat penulis yang memiliki ciri-ciri tersebut (muka murung, enggan beraktifitas), mungkin beliau sedang mengutuk dirinya sendiri u_u


2. Contoh kasus
1. Penulis mendapatkan pesan bagus atau butuh bantuan, dan ingin membantu teman tersebut dengan menyebarkan pesan tersebut kepada orang lain. Namun karena terlalu terburu-buru, penulis lupa menanyakan apakah hal ini boleh disebarkan atau tidak, sehingga hal yang mungkin bersifat pribadi bagi pengirim pesan menjadi tersebarkan. Sang pengirim pesan marah dan BAM! Datanglah rasa bersalah yang difollow-up dengan rasa minder. Penulis menjadi takut untuk membantu orang lagi karena takut akan melakukan hal yang sama, dan terus menerus mengutuk dirinya atas ke'tergesa-gesa'annya.

2. Penulis merasa bersalah karena dibilang terlalu mencampuri urusan orang. BAM! Rasa bersalah datang lagi, minder, dan akhirnya takut untuk menanyakan kabar atau menawarkan bantuan terhadap kehidupan pribadi orang lain.

3. Pengobatan 
Alhamdulillaah mood ini tidak menular. Dalam kondisi ini, penulis merasa takut untuk bertemu orang lain dan memilih untuk menyendiri dalam beberapa waktu kedepan. Sambil memikirkan perbaikan apa yang harus dilakukan agar tidak mengulangi kesalahan yang sama, penulis pun memikirkan bagaimana cara meminta maaf sesungguh-sungguhnya kepada pihak yang tersakiti. Ucapan semangat mungkin tidak akan banyak membantu... 
Penulis akan semangat bila melakukan suatu hal yang membuatnya merasa berguna. Kepercayaan kamu-kamu terhadap beliau membuat penulis merasa bukan seonggok sampah yang numpang hidup di Bumi ini. Dan tentunya, pemberian maaf dari pihak yang tersakiti sangatlah membantu penulis dalam memaafkan dirinya sendiri.

Rasa minder memang berbahaya bagi diri sendiri, salah satunya dapat menyebabkan inferiority complex (kaya yang tau aja qi itu apaan haha). Penulis juga sepenuhnya sadar bahwa mood itu bukan hal yang baik kalau terlalu diekspos kepada orang lain. Namun terkadang ego penulis lebih besar dan mengalahkan akal sehat sehingga yah, seperti yang kamu lihat, bahwa penulis gampang sekali berubah mood. -_-"

Seperti yang telah penulis sebutkan di atas, harapannya dengan adanya tulisan ini kamu-kamu bisa tahu manuver apa yang sebaiknya dilakukan ketika menghadapi sosok penulis yang sedang berubah moodnya hehe. Minimal, sebisa mungkin penulis ingin kamu memahami keadaan penulis (maaf kalau bagian ini agak egois). Harapan paling besarnya sih, kamu dapat memberi saran kepada penulis apa yang harus penulis lakukan untuk mengatasi rasa minder dan rasa bersalah yang sering melanda penulis.

Akhir kata, semoga kamu-kamu bisa terhindar dari mood penulis dan kita semua dapat memahami satu sama lain. Tetap semangat menjalani hidup, be yourself, forgive yourself. Let the past be a lesson to learn. Don't be sad, always be grateful for all the things that Allah gave to you. Penulis meminta maaf sesungguh-sungguhnya bila banyak korban yang berjatuhan akibat mood penulis, dan mungkin kamu yang sedang membaca ini adalah salah satu korbannya. Semoga penulis bisa bertindak lebih dewasa lagi, bertambah baik dan selalu memperbaiki diri sendiri dan sekelilingnya.

wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh~

Saturday, March 21, 2015

Tentang Prasangka

Bismillaahirrahmaanirrahiim..
Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh~

Selamat malam wan-kawan! Kamu pernah ngga, punya pikiran-pikiran dibawah ini? Atau jangan jangan pernah kamu ucapin langsung ke orangnya ?

"Belajar mulu, ambis lu ! Bantuin gue dong ngerjain urusan organisasi ini itu !"
"Orang itu kerjaannya organisasi mulu, amanah orangtuanya ga dikerjain apa ?"
"Pemerintah ga becus, gabisa ngurusin rakyat !"
"IP gede mah gausah belajar. Nyantai-nyantai aja juga udah dapet A.."
"Katanya mahasiswa, mana aksinya ?!"
"Dicancel mulu, maneh serius ga sih ?"
"Ngasih taunya ko telat ? dari kemarin ngapain aja ?"

Wahwah, itu kayanya berburuk sangka deh. Sebelum kamu berburuk sangka seperti itu, saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan nih.

"Apakah kamu sudah mengetahui dengan betul, kondisi orang yang kalian sangka ?"

Maksudnya begini, apa kamu udah tau seluk beluk kehidupan dia sehari-hari ? Sudahkah kamu mengikutinya seharian penuh, dan melihat kegiatan apa saja yang dia lakukan ?

Apa kamu udah tau masa lalunya, yang mungkin berpengaruh pada semua perilaku dia saat ini ? Apa kamu udah tau, apa saja hal yang ia korbankan untuk melakukan segala sesuatunya ? Apa kamu udah kenal baik kepribadiannya ? Apa kamu tau, bahwa ilmu yang ia dapat selama hidup ini tidak sama dengan ilmu yang kamu dapat ? Apa kamu tau, bahwa dia sudah 100 kali merevisi planning hidupnya, demi melayani omelan kamu ? Apa kalian tau, sudah berapa lama dia menahan dan memendam perasaannya ?

Sudahkah kamu tau, berapa janji dan acara yang mungkin telah ia batalkan demi bertemu denganmu, walau akhirnya tetap telat ? Sudahkah kamu tau, tentang apa yang ia pikirkan, yang mungkin tidak akan terlintas di pikiran kamu ? Sudahkah kalian tau, penyakit dalam yang mungkin diderita oleh temanmu - yang tidak mau ia ceritakan pada siapapun ? Sudahkah kamu tau, kondisi orangtuanya ? Sudahkah tau berapa kali teman kamu melewatkan waktu makan dan waktu istirahatnya ? Sudahkah kamu berinisiatif untuk menanyakan keadaannya, dan menawarkan segala jenis bantuan yang bisa teman-teman beri ?

Sudahkah kita tahu ? Sudahkah kita kenal ? Sudahkah kita bantu ? Seringkali kita merasa sombong, meremehkan pekerjaan orang lain, karena menganggap pekerjaan kita jauh lebih penting daripada pekerjaan orang lain. Seringkali kita merasa sombong, karena merasa telah menjadi orang yang paling peka terhadap suatu masalah dibandingkan orang lain.

Hayoloh, jadi gimana dong? Apa yang sebaiknya kita lakukan? 

Daripada kita berprasangka buruk karena tidak ada yang bantu urusan kita, lebih baik kita menolong saudara kita yang membutuhkan. Karena mungkin - kesusahan yang kita alami saat ini - disebabkan karena kita kurang memudahkan urusan saudara kita.

“Barang siapa yang mempermudah kesulitan orang lain, maka Allah ta’ala akan mempermudah urusannya di dunia dan akhirat.” (HR.Muslim)

Dulu, tulisan ini adalah curahan hati dari apa yang saya alami hahaha. Sekarang... ya jadi nasihat tersendiri. Turunkanlah egomu, maklumilah orang lain. Sering-seringlah bertabayyun dengan orang yang kita prasangkai - kalau istilah gaulnya, cross-check. Rasanya tidak pantas apabila kita berprasangka buruk kepada orang yang tidak kita kenal dengan baik, terlepas apapun aktivitasnya saat ini, masa lalunya, dan pikirannya saat ini..

“Carilah 1000 alasan untuk tidak berprasangka buruk terhadap saudaramu.” – lupa siapa yang bilang, haha

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah sebagian kamu mencari-cari kesalahan dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” (QS Al-Hujurat  12)

Akhir kata, semoga kita dimudahkan oleh Allah dalam berprasangka baik setiap saat. Komentar, saran, dan masukkan sangat saya harapkan dari kamu untuk membuat tulisan yang lebih baik kedepannya :)

Wallaahu a'lam, Allah yang lebih tahu~
Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh

Monday, July 7, 2014

Kesibukan Seorang Yes Man!

Bismillaah...
"Libur telah tiba, libur telah tiba ! Hore ? Hore? Hore!"

Bagi teman-teman yang masih kelahiran tahun 1995 keatas, pasti tahu lagu ini~ Lagu wajip pake p yang dikumandangkan saat liburan tiba. Namun anehnya, mungkin ini pertama kalinya saya menginginkan liburan ini cepat berlalu. Saya terlalu terlena dengan kesibukan yang saya buat sendiri.

R1: "Maneh sekarang sibuk apaan bro?"
R2: "Maneh kenapa ga pulang?"

Ini adalah pertanyaan yang sering aktivis lontarkan kepada temannya ketika memulai pembicaraan. Dilanjutkan dengan menceritakan tentang kegiatan sang aktivis agar teman-temannya tau, bahwa ia adalah seorang aktivis. (Merasa) telah menggunakan waktunya dengan sangat keren, melakukan banyak pengorbanan, dimana tidak semua orang mampu melakukan apa yang ia lakukan.

Saya pun merasa sudah menjadi aktivis, karena merasa bahwa saya adalah manusia ter-sibuk di sepanjang liburan kali ini. Bedanya, saya tidak melontarkan pertanyaan yang saya sebutkan diatas. Saya lebih memilih diam, ketika orang-orang sekitar saya meragukan kontribusi saya di beberapa bidang. Mulai dari CEO, kepala "sekolah - diklat", kepala divisi, sampai teman-teman seperjuangan dengan latar belakang kegiatan yang berbeda-beda.

F1: "Maneh kemana aja sih, ko gadateng diklat ?"
F2: "Maneh kalau urang suruh-suruh, yang semangat dong! Jangan ngeluh mulu"
F3: "Dimohon pengertiannya bagi yang gabut, bantu kita untuk mensukseskan kegiatan blablabla". 

Kesal memang, tapi saya tidak sepatutnya marah dan mengaku kalau saya orang yang paling banyak kerjaannya saat ini. Semua orang ada kontribusinya di bidang dan kegiatannya masing-masing. Karena itulah, saya menulis notes ini dengan harapan kita bisa berbagi faham tentang kesibukan masing-masing tadi :3

Semua kegiatan ini tidak datang atas paksaan mereka sendiri. Ada yang memang saya ingin berkontribusi disana. Ada yang membuat saya terlibat disana karena setahun yang lalu saya bersumpah serapah akan berkontribusi. Ada yang berupa syarat dan kewajiban. Ada yang karena saya kasian ketika melihat sedikitnya keluarga saya yang berpartisipasi. Dan bahkan, ada yang melibatkan saya secara tiba-tiba.. J-1 ditanya mau atau tidak, saya langsung dianggap bergabung :')

Dan rasanya sangat mengejutkan. Saya tidak percaya kalau 24 jam hidup saya di liburan ini, saya pergunakan atas kehendak teman-teman saya. Ingin saya mengelak, tetapi ketika teman bertanya...

A1 : "Maneh sibuk apaan sih qi ?" 

... Saya cuma bisa terdiam. Susah untuk menjelaskan, kecuali sang penanya tersebut mau menemani saya minimal sehari penuh. Mungkin... Inilah yang disebut tidak merdeka - ingin bebas tapi tak bisa, ingin bicara tapi tak berusaha.

Nasi sudah menjadi bubur. Bubur yang gosong. Saya bingung antara senang dan menyesal. Pernah ada beberapa teman bilang...

RF1: "Karena kamu itu orangnya reliable qi"
RF2: "Kamu teh kalau disuruh dan gabisa, ya tolak atuh qi"

... Yang membuat hidung saya terbang memang (bukan karena ada gaya aerodinamik). Tapi saya tidak semudah itu merasa GR, saya lebih prefer oleh perkataan teman saya yang kedua.

Ya mau bagaimana lagi, saya seorang Yes Man, orangnya ga tegaan ketika melihat orang lain dalam kesusahan, ketika kebaikan ditindas dan kejahatan merajalela (jiaah). Karena saya mah apa atuh, hanya seorang staff, pimpinan suatu lembaga yang maaf - tidak penting. Seorang yang bahkan daftar jadi ca-kepsek saja gagal di seleksi administrasi :'v 

Mungkin karena itulah saya bisa disuruh buat kesini dan kesitu :v

Tapi ada kaka inspiratif, Umi, dan teman saya yang memberi nasihat: 

Umi: "Waktu buat kamu sendiri mana ?"
RA1: "Kamu tidak akan bisa membuat semua orang lain bahagia." 
RA2: "Jangan lupa untuk menjaga diri sendiri tetap terbina (edited)". 

Ini membuat saya berfikir ulang, saya harus bisa melawan ketidak-tegaan yang sering mengalahkan logika saya. Saya harus bisa berkata tidak ! Saya harus bisa bersikap acuh - tak usahlah bersikap sok-sokan peduli, padahal ikut berkontribusi saja engga. Nanti deh kalau sudah bisa jurus membelah diri, silahkan berkomitmen dan berkontribusi dimanapun :v

Jadi, mohon pengertiannya untuk kita semua, kita punya kesibukan masing-masing. Kita semua cuma punya waktu 24 jam sehari, dan semua memiliki prioritas masing-masing dalam menghabiskan waktu tersebut. Dan saya sih cuma berharap gini, minimalnya:

"Anda, Dia, Saya, bukan orang yang paling sibuk. Karena itu jangan rendahkan, jangan jengkel, hargai teman anda yang terlihat gaada kerjaan"

Engga marah sih, tapi ya ingin dimengerti aja, sekaligus ingin mengerti juga :') 
Maaf kalau bahasanya njelimet, maklum Tata Tulis Karya Ilmiah saya BC :)
Kalau yang dibawah ini, bukan curhatan. Ini adalah nasihat dari seorang anonim untuk kita semua:

"Sebagai seorang manusia, seharusnya kita sadar betul bahwa segala waktu yang kita miliki adalah milik Allah subhanahu wa ta'ala. Maka, sebaik-baik waktu yang disimpan oleh seorang manusia, adalah waktu yang dipakai untuk mengabdi kepada Tuhannya"

Akhir kata as always hehe. Saya sebagai manusia juga menyadari bahwa sudah fitrahnya dalam melakukan kesalahan. Saran dan masukkan dari kamu akan sangat saya apresiasi, agar penulisan blog ini dapat menjadi lebih baik lagi.

Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh~