Showing posts with label Introduction. Show all posts
Showing posts with label Introduction. Show all posts

Thursday, October 26, 2017

Selamat Ulang Tahun!


"Waaaah, selamat ulang tahun! Baarakallaah fii umrik! Wilujeung tepang taun! Happy birthday! Buon compleannoSugeng tanggap warsaAlles Gute zum GeburstagOtanjoubi omedetou gozaimasu!"*
Tapi wait, hari ulang tahun adalah suatu hari kelahiran seseorang [1]. Pertanyaannya adalah - dalam memperingati hari ulang tahun, sistem kalender apa yang digunakan? Budaya negara manakah yang digunakan? Apakah sepenting itu memperingati hari ulang tahun? Apakah ulang tahun disyari'atkan dalam Islam?


=======================================================================


Bismillaah,
Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh!

Hai teman-teman, maafkan penulis menghilang beberapa bulan ini eheh. Penulis gausah bercerita tentang kesibukan selama ini ya, tidak penting dan bisa langsung ke inti cerita saja. Seperti pendahuluan yang dituliskan penulis di atas, tulisan kali ini akan menceritakan beberapa humble opinion penulis mengenai ? (mengenai apa saudara-saudara?) Yap! Mengenai per-ulang tahunan~



Karena ini adalah bulan Oktober, dan banyak orang keren yang lahir di bulan Oktober B-)


Pandangan berikut ini didapat dari berbagai obrolan dengan orang lain, dengan berbagai latar belakang, pergalauan diri sendiri, dan juga ilmu yang didapat dari orang lain. Namun pada penarikan kesimpulan, tentu pendapat penulis tidak bisa terlalu dijadikan referensi. Seperti judul blog ini, penulis hanya ingin berbagi : "Just Another Point of View" :)

Adapun jika teman-teman menjadi haus untuk mencari kebenaran yang hqq , maka silahkan mencari dan bertanya. Jangan nanya ke penulis :)) Silahkan bertanya kepada para ulama dan asatidz yang In syaa Allaah jauh lebih berilmu dan memiliki faedah-faedah yang lebih banyak dibandingkan penulis. Kalau ternyata teman-teman super sibuk, silahkan ketik di mesin pencari "Ulang tahun dalam Islam". Akan muncul contoh-contoh di bawah :


Hasil pencarian "Ulang tahun dalam Islam" (sumber: dok. pribadi)

Jangan lelah mencari kebenaran, teman-teman. Dan bagi yang sudah menemukan kebenaran hqq, tuntunlah teman-teman yang belum dengan cara sebaik mungkin. Jangan mengkafiri dan selalu berbaik sangka, atau terus berdo'a agar kita dan mereka meninggal dalam keadaan yang terbaik, dalam keadaan bertaubat, dalam keadaan Islam, dan keadaan yang husnul khatimah

Aamiin.

=======================================================================

Kira-kira, ada berapa macam kalender yang telah digunakan untuk menentukan "tahun" ? Di Indonesia sendiri, ada beberapa jenis kalender seperti Masehi, Hijriyah, Jawa, Sunda, Saka, Saka Bali, dan masih banyak lagi. Jika kita bertanya tentang "tahun berapakah saat ini?" maka jawabannya pun bisa bermacam-macam : 2017 Masehi, 1438 Hijriyah, bahkan salah satu kanal Youtube favorit penulis, Kurzgesagt - mengusulkan tahun ini adalah tahun 12017 dalam videonya.

Di negara yang berbeda, pemberian umur seseorang dilakukan dengan cara yang berbeda pula. Kebanyakan orang menggunakan kalender Masehi sebagai patokan umurnya, dengan definisi "umur 1 tahun adalah orang yang sudah berada di luar rahim ibu selama 1 tahun = 365 hari". Beberapa negara seperti Korea dan China, mendefinisikan "umur 1 tahun adalah ketika seseorang baru keluar dari rahim ibu". Penulis sempat bertengkar dengan teman penulis mengenai umur masing-masing :D

Percakapan penulis dengan kawan pena di China, setahun yang lalu (sumber:dok. pribadi)


Oh iya, beberapa negara juga menetapkan bahwa 1 Januari adalah hari dimana semua orang di negara tersebut bertambah umurnya. Mungkin, agar bisa menghemat biaya pesta ulang tahun kali ya :))

Sekarang, berapakah umur penulis? Kembali ke pertanyaan-pertanyaan di atas, tergantung penulis menggunakan sistem pemberian umur yang mana. Pada akhirnya, sistem tahun dan pemberian umur ini adalah hasil dari kesepakatan beberapa orang, dan bergantung pada perspektif orang tersebut. Perbincangan ini serasa hambar jika penulis tidak mengutarakan pendapat mengenai "waktu".

Pendefinisian detik (sumber :Wikipedia[2] )

Bagi penulis, pendefinisian "1 detik = radiasi atom bla bla bla, 1 hari = 1 kali rotasi bumi, 1 tahun =" dan masih banyak lagi, adalah hanya suatu cara bagi manusia untuk melakukan pengukuran terhadap waktu. Sama seperti satuan panjang atau berat, agar masing-masing manusia bisa mengukur waktu dalam kesepakatan bersama. Namun seperti yang terlihat saat ini, penulis bahkan bisa saja membuat sistem waktu sendiri - misal mendefinisikan 1 minggu ada 4 hari : Onde, Mande, Tusde, Wenesde. Maka pendefinisian 1 bulan dan 1 tahun pun bisa menyusul kemudian. It's all about perspective and mutual agreement.

Setelah mengetahui pentingnya pengukuran waktu, apakah ulang tahun juga penting? Jika ternyata ketika seseorang ulang tahun, maka akan didoakan keberkahan umurnya, diberi kado, kue, dan kejutan, maka penulis berharap bahwa setiap hari adalah ulang tahun penulis! Karena mbok ya tahunnya kan tahun yang dibuat sendiri eheh. Tapi kalau ternyata jadinya harus traktir makan setiap hari, hmm ngga jadi deh.


Sekarang, bagian yang paling kontroversional. Tarik nafas dalam-dalam. Jangan lupa buang nafas. Silahkan bernafas normal kembail.

Penulis sendiri ingin sekali berperilaku di dunia ini dengan mencontoh the first most influential on the earth, manusia terbaik yang tidak hanya mengukir namanya dalam buku sejarah, tapi beliau juga berhasil mengukir namanya di hati orang-orang jauh setelah zamannya, dan paling penting telah mengukir namanya di langit. Dan SEPENGETAHUAN PENULIS (maaf kalau pengetahuan penulis sedikit sekali), bahwa Rasulullaah shallallaahu 'alaihi wa sallam tidak mengucapkan selamat milad ataupun mendoakan keberkahan umur seseorang pada hari kelahirannya saja. 

Maka dari itu, penulis juga melakukan hal yang sama. Tidak merayakan hari ulang tahun sendiri, tidak mengucapkan selamat ulang tahun pada orangtua, dan tidak juga membuat spesial hari kelahiran Rasulullaah shallallaahu 'alaihi wa sallam.

Bagi teman-teman yang mungkin tau riwayatnya, silahkan cantumkan di kolom komentar ya, penulis ingin menambah sudut pandang yang baru juga :)

=======================================================================

Ulang tahun sering dijadikan sebagai momen bersyukur dan bersenang-senang karena masih diberikan umur hingga saat itu. Ulang tahun juga kadang dijadikan sebagai momen renungan bagi seseorang karena waktunya di dunia telah berkurang dan semakin dekat jaraknya dengan kematian. Tapi hey! Apakah harus menunggu 1 tahun Masehi untuk melakukan hal tersebut? Kenapa tidak menggunakan tahun Hijriyah saja, yang waktunya relatif lebih sedikit - sehingga bisa dilakukan lebih sering? 

Bahkan, kenapa kita tidak bersyukur dan merefleksikan perbuatan diri sendiri, setiap hari?

Dalam Islam sendiri, telah jelas bahwa manusia berada dalam kerugian dan digambarkan dalam waktu yang terus berjalan dan akan habis [3], Maka introspeksi umur sebaiknya tidak dilakukan setahun sekali, tapi setiap hari - agar tidak menjadi manusia yang menyesali diri sendiri.

Penulis TIDAK MELARANG teman-teman untuk mengucapkan ulang tahun kepada penulis. Tapi penulis sangaat berharap, bagi teman-teman yang ingin memberikan penulis kado atau kue, maka penulis sangat terbuka, setiap hari apapun, boleh - tidak harus menunggu hari ulang tahun :))
Bagi yang ingin mendo'akan keberkahan penulis, juga sangat ditunggu do'anya, kalau bisa setiap hari ya, setiap shalat :)

Semoga kita tidak termasuk orang yang mengalami kerugian - bisa mensyukuri umur yang telah diberikan, dengan melakukan usaha terbaik dalam kehidupan kita :')
Semoga bisa mencontoh Rasulullaah shallallaahu 'alaihi wa sallam, diberi kelapangan hati untuk menerima ilmu dan hidayah dari-Nya.

Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh.

PS : Kenapa penulis membuat tentang tulisan ini pada hari ini? Tidak ada hubungannya dengan ulang tahun penulis, ini hanya karena banyak teman-teman penulis yang lahir di bulan Oktober. Dan mayoritas adalah orang yang dekat dengan penulis :)

*berbagai ucapan ulang tahun dalam berbagai bahasa. Dimulai dari paling awal : Bahasa Indonesia; Bahasa arab (terjemah : Semoga Allah memberkahi umurmu) ; Bahasa Sunda; Bahasa Inggris; Bahasa Italia; Bahasa Jawa; Bahasa Jerman; Bahasa Jepang;

Sunday, April 2, 2017

Wisuda atau Bagi Raport ?

Bismillaah....
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh !

Hai teman-teman, pernah mendengar kalimat seperti judul di atas? Kalimat yang akhir-akhir ini menjadi agak viral di kalangan perguruan tinggi yang sedang merayakan momen wisuda - tampaknya karena ada massa kampus yang niat banget membawa spanduk seperti di bawah:

Asal muasal meme "Wisuda atau Bagi Raport"

Kalau membawa pendamping wisuda (selanjutnya akan disingkat PW) berarti dibilang wisuda, kalau hanya membawa orangtua dan keluarga dibilang bagi raport :))

Tanggal 1 April 2017 lalu, penulis pun mengalami momen wisuda dari suatu institut teknologi di Bandung, dan status penulis bisa dilihat sesuai gambar berikut:


Eh maaf penulis salah unggah, harusnya foto yang ini :

Pendamping Wisuda Penulis

Jadi, status penulis saat 1 April 2017 lalu adalah "Wisuda" ! Yeay~

PW penulis tidak lain dan tidak bukan adalah wanita tercantik di dunia, tak diragukan kemampuan memasaknya, sabar tiada tara, guru-akuntan-istri-ibu-semuajadisatu ! Wanita yang mendebarkan jiwa, merasuk di sukma, terpanut selamanya (penulis sedang berusaha untuk memuji beliau setinggi-tingginya, tapi apa daya wkwk)

Beliau adalah... Ummi* Nurhayati <3

Ummi beserta anak-anaknya dan suaminya, Abi - datang untuk menemani penulis di hari yang kata orang “today is yours”. Banyak teman-teman penulis yang datang memberi selamat ini itu, foto bersama ini itu, tapi mayoritas dari mereka hanya datang di saat yang berbahagia – bahkan sepertinya hanya sedikit yang terbangun di sepertiga malam untuk mendoakan penulis melewati sulitnya masa-masa sebelum wisuda. 

Ingin rasanya.. penulis mengatakan “today is ours” :’)

Keluarga Penulis

Namun bukan berarti penulis tidak menghargai teman-teman yang lain :’) Kalian da best kok! Memang ada saatnya kita senang bersama, susah sendiri *eh bersama maksudnya. Penulis berterima kasih sebanyak-banyaknya untuk pihak yang memberi hadiah, pihak yang cuma minta foto, pihak yang memberi selamat lewat medsos, pihak yang mendoakan secara diam-diam *eh, dan pihak-pihak lainnya :)

Mungkin di lain kesempatan penulis akan membuat tulisan mengenai teman-teman yang datang saat wisuda penulis. In Syaa Allaah.


======================= HIKMAH ===========================

Okay balik lagi ke masalah wisuda atau bagi raport. Beberapa diantara teman-teman mungkin ada yang protes bahwa “Ah penulis bercanda nih, masa bawa keluarga aja dibilang wisudaan, itumah bagi raport!”

Err gini ya teman-teman... Sekilas meme tersebut memang lucu dan penulis pun sempat mem-viralkan quotes tersebut, hingga beberapa menit kemudian teman penulis bernama teh Feranti membagikan meme tersebut dari sudut pandang yang berbeda, yang membuat penulis tersadar dan langsung merasa bersalah.

Respons teh Feranti yang menusuk raga *bukan promosi OA

Dibalik kelucuannya...... rasanya (secara tidak langsung) merendahkan status orang tua penulis. Teman-teman merasa gitu juga, ngga? Seakan-akan orangtua kita itu... ah gitu weh lah, penulis tak bisa menuliskan kata yang tepat untuk menggambarkan hati yang gundah gulana akibat meme ini. Sontak penulis menghapus postingannya dan bertekad untuk menulis blog tentang hal ini... suatu hari nanti... Dan voila ! Jadilah beberapa kalimat dan cerita di atas.

==================================================================

Oh iya karena penulis pernah mengalami hal yang sama.... Bagi teman-teman penulis yang belum wisuda, penulis hanya bisa memberikan semangat! Memang penulis tidak merasakan penderitaan se-lama kalian, tapi penulis juga pernah kok ditinggal wisuda ehe.

Jika butuh curhat atau apapun, teman-teman bisa meminta tolong kepada Allah – Penulis sih mau-mau saja mendengarkan curhatan dan ingiin sekali membantu teman-teman, tapi apa daya kalau penulis hanyalah makhluq yang tidak bisa melakukan apa-apa...

Iyyaaka na’budu – Hanya kepada-Mu lah kami menyembah
Wa iyyaaka nashta’iin – dan hanya kepada-Mu lah kami meminta pertolongan

Hayo, minimal 17 kali bilang seperti itu loh~ Semangat semangat !

Sebagai penutup... Penulis berharap semoga kedepannya tidak meremehkan status orang tua yang sudah mendidik kita hingga akhirnya menjadi pribadi yang seperti ini.. Walau tentu masih banyaak sekali kekurangan yang dimiliki, tapi itu munculnya dari diri penulis :’) Terima kasih ya Allaah, Engkau telah melahirkan dan mendidikku melalui keluarga yang saat ini kumiliki. Ampunilah kesalahanku dan kesalahan kedua orang tuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil.

Terima kasih buat teman-teman yang masih stay tune sama penulis yang ceritanya ga jelas seperti ini :’) Tepuk tangan untuk kalian semua!

Wassalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuh

*Ummi (Bahasa Arab) berarti Ibuku dalam bahasa Indonesia, Abi berarti Ayahku. Ummi - Abi adalah panggilan yang dipakai penulis kepada Ayah dan Ibu penulis.

Monday, October 24, 2016

How to Handle Writer's Mood Swings - Part 1: Low Self-Esteem

Bismillaah... Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuh guys :)

Pada tulisan kali ini, In Syaa Allaah penulis akan memberitahu beberapa penyebab dan cara yang mungkin berguna buat kamu yang udah kesel sama kecepatan perubahan mood penulis. Kamu juga mungkin bingung apa yang harus dilakukan kalau si penulis ini sedang menularkan mood ini kepada orang-orang sekitarnya. Semoga pengetahuan ini dapat digunakan secara semestinya dan harapannya kamu bisa memberi saran kepada penulis - atau paling tidak, memaklumi keadaan penulis :')

1. Minder dan Guilty
Salah satu penyebab hilangnya mood penulis adalah sesuai judulnya: low self-esteem.
Yak betul sekali ! Seorang penulis yang dibalik cerita-cerita anaknya aktif, bocah, dan kelihatan selalu bahagia - alhamdulillaah, semoga yang diceritakan itu bisa jadi kenyataan - ternyata suka merasa minder.

Rasa minder ini biasanya menjadi parah ketika penulis merasa bersalah saat melakukan satu atau beberapa kesalahan sehingga membuat orang lain merasa illfeel terhadap penulis. Penulis menjadi kesal terhadap ketidakmampuan atau ketidakbecusan dirinya sendiri (penulis itu orangnya terlalu memikirkan pendapat orang lain tentang dirinya). Akibatnya, penulis menjadi (sangat) murung dan enggan untuk bergerak aktif. Jika kamu-kamu melihat penulis yang memiliki ciri-ciri tersebut (muka murung, enggan beraktifitas), mungkin beliau sedang mengutuk dirinya sendiri u_u


2. Contoh kasus
1. Penulis mendapatkan pesan bagus atau butuh bantuan, dan ingin membantu teman tersebut dengan menyebarkan pesan tersebut kepada orang lain. Namun karena terlalu terburu-buru, penulis lupa menanyakan apakah hal ini boleh disebarkan atau tidak, sehingga hal yang mungkin bersifat pribadi bagi pengirim pesan menjadi tersebarkan. Sang pengirim pesan marah dan BAM! Datanglah rasa bersalah yang difollow-up dengan rasa minder. Penulis menjadi takut untuk membantu orang lagi karena takut akan melakukan hal yang sama, dan terus menerus mengutuk dirinya atas ke'tergesa-gesa'annya.

2. Penulis merasa bersalah karena dibilang terlalu mencampuri urusan orang. BAM! Rasa bersalah datang lagi, minder, dan akhirnya takut untuk menanyakan kabar atau menawarkan bantuan terhadap kehidupan pribadi orang lain.

3. Pengobatan 
Alhamdulillaah mood ini tidak menular. Dalam kondisi ini, penulis merasa takut untuk bertemu orang lain dan memilih untuk menyendiri dalam beberapa waktu kedepan. Sambil memikirkan perbaikan apa yang harus dilakukan agar tidak mengulangi kesalahan yang sama, penulis pun memikirkan bagaimana cara meminta maaf sesungguh-sungguhnya kepada pihak yang tersakiti. Ucapan semangat mungkin tidak akan banyak membantu... 
Penulis akan semangat bila melakukan suatu hal yang membuatnya merasa berguna. Kepercayaan kamu-kamu terhadap beliau membuat penulis merasa bukan seonggok sampah yang numpang hidup di Bumi ini. Dan tentunya, pemberian maaf dari pihak yang tersakiti sangatlah membantu penulis dalam memaafkan dirinya sendiri.

Rasa minder memang berbahaya bagi diri sendiri, salah satunya dapat menyebabkan inferiority complex (kaya yang tau aja qi itu apaan haha). Penulis juga sepenuhnya sadar bahwa mood itu bukan hal yang baik kalau terlalu diekspos kepada orang lain. Namun terkadang ego penulis lebih besar dan mengalahkan akal sehat sehingga yah, seperti yang kamu lihat, bahwa penulis gampang sekali berubah mood. -_-"

Seperti yang telah penulis sebutkan di atas, harapannya dengan adanya tulisan ini kamu-kamu bisa tahu manuver apa yang sebaiknya dilakukan ketika menghadapi sosok penulis yang sedang berubah moodnya hehe. Minimal, sebisa mungkin penulis ingin kamu memahami keadaan penulis (maaf kalau bagian ini agak egois). Harapan paling besarnya sih, kamu dapat memberi saran kepada penulis apa yang harus penulis lakukan untuk mengatasi rasa minder dan rasa bersalah yang sering melanda penulis.

Akhir kata, semoga kamu-kamu bisa terhindar dari mood penulis dan kita semua dapat memahami satu sama lain. Tetap semangat menjalani hidup, be yourself, forgive yourself. Let the past be a lesson to learn. Don't be sad, always be grateful for all the things that Allah gave to you. Penulis meminta maaf sesungguh-sungguhnya bila banyak korban yang berjatuhan akibat mood penulis, dan mungkin kamu yang sedang membaca ini adalah salah satu korbannya. Semoga penulis bisa bertindak lebih dewasa lagi, bertambah baik dan selalu memperbaiki diri sendiri dan sekelilingnya.

wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh~

Tuesday, September 13, 2016

Short Intro - Writer's purpose on this blog

Bismillaah... 
Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh ! :)

Buat kamu yang ngga sengaja menemukan blog ini, saya panjatkan do'a semoga mendapatkan satu-dua hikmah yang bisa diambil dari *curhatan* saya di blog ini :'3

Perkenalan singkat saja, nama saya Rifqi Fathul Azhar, manusia asli *Kabupaten* Bandung kelahiran Oktober 1995. Anak pertama dari pasangan Iwan Syarif Setiawan dan Nurhayati, punya 3 adik laki-laki. Makanan kesukaan.. Alhamdulillaah saya suka semua jenis makanan yang halal, apalagi kalau dimasakin sama Umi~

Born to be moslem and proud to be moslem! Ingin menjadi Hamba Allah subhanahu wa ta'ala yang ta'at, mengidolakan Rasulullaah shallallaahu 'alaihi wa sallam, sedang mencoba untuk menjadi fans berat beliau. Do'akan saja ya~

Sebenarnya saya ini orang yang ngga terlalu suka-suka amat buat menulis - atau membaca - atau sesuatu yang berbau dengan tulisan. Saya lebih prefer ke hal yang lebih visual - gambar, video - oleh karena itulah hobi saya baca komik sama nonton youtube hehe. Oh iya! Saya juga sebenarnya sudah punya blog sendiri ko, nih cek: Acha's dream

Tapi seperti yang dapat kamu lihat, ada beberapa gambar yang hilang dari blog tersebut. Setelah ditelisik, ternyata ada kapasitas tertentu yang disediakan ITB dalam mencantumkan gambar pada blog tersebut (ah si Rifqi na weh yang ga bisa ngebenerin). Dan lagi, sebagai manusia yang sebentar lagi meninggalkan kampus ini, saya hendak memindahkan cerita-cerita saya disana agar bisa terlihat lebih rapi di blog baru ini. So buat kamu yang penasaran sama beberapa tulisan saya, check that out!

Kembali lagi, sebagaimana-tidak-senangnya kamu dalam membuat karya tulis, tak ada salahnya mencoba untuk menulis - mengingat bahwa Imam Syafi'i pernah berkata bahwa:

 "Ilmu itu bagaikan binatang buruan, dan pena adalah tali pengikatnya. Maka ikatlah binatang buruanmu dengan tali yang kuat"

Yap ! Saya punya banyaak sekali pengalaman hidup yang ingin saya share kepada dunia. Namun jika tidak saya tuliskan.. maka In Syaa Allaah saya pasti lupa. Kamu juga pasti punya kejadian unik kan? Saya sebagai penulis blog ini hanya ingin berbagi sudut pandang dengan pembaca yang mampir kesini. Sekali lagi saya panjatkan do'a, semoga kamu-kamu sekalian mendapatkan satu-dua hikmah yang bisa diambil dari tulisan saya yang sederhana.

Akhir kata, saya sebagai seorang manusia sadar betul akan fitrahnya dalam melakukan kesalahan. Saran dan masukkan dari kamu akan sangat saya apresiasi, agar penulisan blog ini dapat menjadi lebih baik lagi.

Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh~

Saturday, July 27, 2013

Aku Ingin Menjadi Bocah

Bismillaah....

Penulis adalah seorang mahasiswa yang saat ini beranjak menuju semester 3 di suatu institut teknologi di Bandung. Kalau kamu kenal dengan penulis, mungkin kamu akan berpendapat kalau penulis ini tingkahnya bocah, anak kecil, dan sebagainya...
Tapi taukah kamu ? penulis bangga ketika penulis dipanggil bocah. Kenapa ?

Karena jika kalian perhatikan bocah-bocah di sekitar kalian, mereka itu suka belajar agama, suka belajar tatakrama, dan suka belajar norma dan nilai yang seharusnya berlaku pada masyarakat. Mereka suka menghafal Al-Qur'an, mereka merasa aneh ketika melihat ada orang buang sampah sembarangan, yang bahkan untuk memegang lawan jenisnya saja harus memakai perantara sedotan (kenangan masa kecil hehe).

Karena bocah itu semangat dan energinya tidak habis-habis ketika melakukan aktivitas yang ia sukai. Karena bocah itu memandang bahwa dunia ini sempurna - manusia saling damai membentuk harmoni - selalui berkolaborasi. Bocah itu tidak mengenal galau dan menjalani hidupnya tak kenal risau.

Karena bocah itu penyayang, peduli satu sama lain. Karena bocah itu polos, kata-katanya penuh dengan kejujuran. Karena seorang bocah itu penuh mengabdi dan rasa sayang terhadap orangtuanya tinggi. Karena seorang bocah itu kreatif, tidak terkekang oleh tradisi.

Dan karena bocah lah, penulis ingin memiliki sifat-sifat bocah yang penulis sebutkan tadi :)
Orang lain mungkin banyak yang bilang "cepet dewasa" atau "dewasa dong" dan sebagainya... mungkin mereka tidak bahwa bocah pun bisa lebih baik dari mereka~
Biarlah mereka berkata apa, yang pasti AKU INGIN MENJADI BOCAH !