Showing posts with label Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Hikmah. Show all posts

Tuesday, May 7, 2019

Alasan apa lagi yang ku gunakan untuk menghindari Ramadhan?


Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh!

Yak, sudah hampir lebih dari setahun, penulis tidak menyentuh blog ini lagi (sedih). Pun dari kualitas diri, penulis rasa sudah turun sangat drastis, sehingga ke PD-an penulis dalam berbagi hikmah pun berkurang... Semoga ini bisa jadi titik balik dari penulis.

========================================================================

Penulis sangat ingat bahwa ramadhan tahun lalu adalah termasuk ramadhan paling buruk sepanjang hidup penulis.
Mengapa bisa begitu? Penulis curhat sedikit ya, sambil banyak alasan agar bisa ngeles hehe

Pertama, penulis baru saja mengundurkan diri dari BMKA Salman ITB. Disamping sudah genap satu tahun bekerja disana, penulis juga diminta orangtua untuk mengambil pekerjaan yang sesuai dengan jurusan penulis. Tahukah teman-teman? Pemikiran penulis saat itu sering bertentangan dengan orangtua, termasuk dalam hal pekerjaan ini, hehe.

Namun alhamdulillaah penulis langsung mendapatkan kesempatan untuk magang di PT GTSI (penulis melamar secara non-formal). Namun magang ini belum memenuhi kebutuhan penulis secara finansial, mengingat saat itu perusahaan belum punya pemasukan reguler dan belum ada proyek.

Kondisi penulis yang tanpa pendapatan, dan pertengkaran dengan orangtua inilah yang menyebabkan penulis memasuki fase stress, sering depresi. Salahnya penulis saat itu adalah tidak menghibur diri dengan hal-hal rohaniah, tapi malah menenggelamkan diri dalam dunia media sosial dan game.

Kedua - Kondisi finansial penulis yang sulit saat itu menyebabkan penulis memutuskan untuk pulang-pergi dari rumah ke kantor (Kopo-Sarikaso) naik motor. Hal ini menjadi pilihan penulis karena saat itu juga berbarengan dengan adik penulis yang juga pulang-pergi dari rumah ke UPI.

Perjalanan yang menyita waktu paling cepat satu jam (kalau jam pulang normal), tidak penulis gunakan dengan baik. Penulis banyak mendengarkan lagu dan main HP. Saat penulis membonceng, harusnya penulis bisa sambil murajaah. Saat penulis bonceng dengan adik, harusnya penulis bisa sambil tilawah.

Saat pulang dari kantor pun, badan sudah tanggung lelah sehingga cukup sulit untuk mencapai target ramadhan yang biasanya mudah saat ramadhan tahun-tahun sebelumnya.

Ketiga - Penulis saat itu sedang galau tentang pernikahan, yang juga banyak bertengkar dengan orangtua tentang itu. Ya pendapatan saja belum jelas, masa' mau menghidupi anak orang? Penulis bertambah stress, akibat galau pernikahan dan godaan seorang jomblo (serius) semakin besar.

========================================================================


Kini, Allah subhanahu wa ta'ala masih memberikan hamba-Nya untuk menemui ramadhan lagi. Alhamdulillaah kini penulis sudah tidak bertengkar dengan orangtua, sudah memiliki penghasilan sendiri, kantor dengan rumah tinggal menyeberang (serius wkwk), dan juga sudah ada yang memasak untuk sahur dan berbuka.

Namun sedihnya, sudah memasuki hari ke-3 ramadhan tapi diri ini masih belum terbakar juga semangatnya untuk meningkatkan ibadah dan capaian harian. Padahal, ada istri yang harus dibimbing untuk menjadikan ramadhan ini ramadhan terbaik. Kenapa?

Kiranya, penulis tidak meminimalkan kegiatan-kegiatan yang tidak berguna dan receh . Kiranya, penulis punya banyak bercak hitam dari dosa-dosa penulis yang belum dibersihkan. Kiranya, penulis tidak mengisi energi dengan amalan sunnah yang kecil namun berdampak besar.

Kiranya, penulis tidak memprioritaskan bulan Ramadhan, dan mencari-cari alasan sehingga apapun keadaannya, Ramadhan seperti bulan-bulan lainnya. Mungkin, penulis sudah tidak menginginkan Surga sebagai tujuan akhir, dan lebih memprioritaskan pekerjaan dan uang untuk waktu-waktunya. Astagfirullaahal 'adziim, na'udzubillaahi min dzaalik.

Penulis meminta tolong kepada teman-teman yang membaca tulisan ini, do'akan penulis agar diberikan kekuatan untuk menjadikan Ramadhan kali ini menjadi bulan perubahan, sehingga bulan berikutnya penulis bisa lebih baik lagi, kembali menjadi penulis yang rajin menulis di blog, berbagi hikmah, dan mengejar ridho Allah semata.

Jika teman-teman punya kondisi yang mirip dengan penulis, mungkin bisa bagi-bagi pengalamannya kok, mungkin bisa komentar disini atau japri penulis di kontaknya, heheh.

Sekian untuk tulisan kali ini,
Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh


Sunday, November 4, 2018

Notula SPN Hari Kedua

Bismillaah, 
Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh~

Hai teman-teman, kembali lagi bersama penulis di serba-serbi notula SPN~ 
Pada tulisan kali ini, penulis akan menuliskan poin-poin yang didapat dari materi pertemuan ke-2

Sebelumnya, penulis ingin minta maaf karena dari materinya sendiri loncat-loncat antara teori, penjelasan, dan pengalaman pembicara. Penulis sendiri bingung bagaimana merangkai notula ini agar enak dibaca oleh teman-teman. Oleh karena itu, maafkan penulis ya >,<


========================================================================

Motivasi Menikah

oleh: Bapak Adriano Rusfi (Psikolog)



Apa saja hal yang bisa memotivasi kita untuk menikah (muda) ?

1. Idealisme masih menggelora

2. Education by achievement

untuk 2 ini, penulis menghilang dulu keluar ruangan sehingga tidak mendapatkan penjelasan materinya, maaf yaa

3. Nikah sebelum mapan

  • Kenapa menikah harus menunggu mapan? Menikahlah ketika kita sedang berjuang mencari kemapanan tersebut, agar bisa mendidik keluarga untuk merasakan dan berjuang mengatasi kesulitan.
  • Kemampuan untuk berjuang adalah sebuah aset yang sulit ditanamkan kepada seseorang. Maka menikmati susahnya hidup adalah pengalaman berharga yang dapat mengantarkan ke surga.
  • Ingat Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 214
  • Banyak orangtua Indonesia saat ini sering mengatakan : “Kami ngga mau kamu merasakan apa yang jalan derita kami dahulu”. Lantas, apakah orangtua tidak ingin anaknya belajar bagaimana cara berjuang? Apakah mereka ingin anaknya hanya belajar menikmati hasil jerih payah orangtuanya?
  • Disisi lain, orang-orang sukses biasanya dididik oleh orangtua yang memiliki pendidikan anak dengan berprinsip : “Saya akan mewariskan jalan derita kepada keluarga saya”. Mereka tahu betul bahwa orang sukses itu telah jatuh bangun melewati jalan derita. 
  • Apabila menikah setelah mapan, biasanya akan bingung bagaimana cara mendidik keluarga untuk berjuang melawan kesusahan. 

4. Life begin at forty

  • Usahakan sebelum umur kita menginjak 40 tahun, anak-anak kita sudah besar dan urusan-urusan keluarga sudah selesai. Dulu umur 50 tahun, Rasulullaah mulai perang Badar, badannya segar bugar. Sedangkan jaman sekarang malah membahas penyakit dan pantangan.
  • Ada beberapa tahapan hidup (menurut pembicara)
  1. 0-15 tahun :character building
  2. 15-40 tahun : family and capacity building. Kematangan fisik berada pada posisi puncak, namun kematangan emosional dan spiritual masih kecil.
  3. 40 usia paling matang dimana kematangan fisik menurun, namun kematangan emosional dan spiritual meningkat, sehingga ketiganya mencapai titik seimbang (Q.S. Al Ahqaf ayat 15). Inilah saat yang tepat bagi seseorang agar berkarya untuk dunia.

5. Selesai urusan dunia

Jadi caleg / bos sejak umur muda, urusannya belum beres, dan menyebabkan korupsi banyak terjadi. Nikmatnya mencari kemaoanan di usia tua adalah, saat pintu dunia sudah dibuka selebar-lebarnya, hasrat kita justru sudah ditutup pelan pelan, sehingga kita sudah tidak terlalu menginginkan dunia. Dibandingkan ketika umur kita muda.

6. Dunia butuh kita

Dengan memiliki keturunan yang tidak beda jauh dengan kita, kita jadi punya asisten sendiri. Anak pembicara sudah bisa menjadi asisten pembicara dalam menyelesaikan urusan urusan pekerjaan.
Di Yogyakarta: Raja-raja Yogyakarta, meskipun bukan orang terbaik di Jogja, tapi tetap diangkat jadi raja karena sudah dikader dari kecil.

7. Tentang Jodoh

  • Q.S. Yasin ayat 36
  • Segala sesuatu sudah ada jodohnya. (Q.S Asy-syams). 
  • Jodoh tidak serta merta mengenai kita cocok dengan siapa. Jodoh bergantung kepada orang seperti apa yang cocok dengan kita. Ini mengenai kategori, mengenai suatu kelompok orang, bukan seseorang yang khusus tertentu itu saja.
  • Katakanlah kualitas kita saat ini adalah 75/100. Maka, jodoh kita adalah setiap orang yang memiliki kapasitas yang sama, atau mungkin bisa lebih/kurang sedikit. (tambahan penulis: Jika kita mencari jodoh diluar kategori itu, maka kehidupan rumah tangga akan sulit untuk harmonis.) Namun kualitas disini tidak harus dalam kategori yang sama. Misal kita penyabar, maka jodoh kita tidak harus sama-sama penyabar. Bisa jadi dia punya keunggulan lain yang membuat dia pantas untuk berjodoh dengan kita.
  • Mencari jodoh haruslah yang cocok. Cocok disini tidak serta merta harus yang mirip dengan kita. Beberapa penyebab seseorang berjodoh dengan orang lain adalah:
  1. Ada orang yang berjodoh dengan orang yang sama (similar) dengan dirinya, mungkin itu wajah, atau sifat, dsb. 
  2. Ada yang berjodoh, meskipun tidak sama namun berdekatan (seperti sendok dan garpu, walaupun berbeda tapi saling melengkapi). 
  3. Ada yang berjodoh untuk saling menyempurnakan kelebihan dan kekurangan satu sama lain. 
  4. Ada juga yang berjodoh karena saling bertentangan (yang banyak bicara berjodoh dengan yang suka mendengarkan).
  • Maka dari itu kita memperluas peluang kita untuk jodoh, jangan terlalu dibatasi oleh kriteria-kriteria yang mempersulit diri kita sendiri. Sampaikan kepada perantara kita bahwa kita mencari jodoh dengan seminimal-minimalnya kriteria. Semakin banyak filter, maka peluang jodoh kita akan semakin sedikit.  
  • Untuk kriteria lain, sampaikanlah hanya kepada Allah. Biar Allah yang menyeleksi sendiri. Jika cocok, maka Allah akan jadikan. Jika tidak, maka Allah akan batalkan. Kita sering mengucapkan bahwa jodoh itu Allah yang mengatur, tetapi tidak dibuktikan dan sering sekali ngotot. Kita sering memaksa, minta jodoh dengan orang seperti ini, sering memaksa untuk berjodoh dengan dia. 
  • Memperluas peluang jodoh juga bisa dilakukan dengan membuka berbagai sumber. Coba minta carikan kepada ayah, saudara, teman.

8. Proses mencari jodoh

  • Berjuang sekeras mungkin dan tidak dinomorduakan. Pernikahan bernilai setengah agama. dan suatu peradaban dibangun dalam keluarga terlebih dahulu. Harus totalitas karena pernikahan adalah sesuatu yang mahal.  
  • Yakinkan hati untuk bisa lapang dan tenang. Orang tak kunjung yakin dengan jodohnya karena termakan rayuan syaithan dan senantiasa dihantui rasa was-was (ingat Q.S. An-Nas)

9. Nasihat dari pengalaman-pengalaman pembicara

  • Jika ditolak saat mengajukan proses taaruf dengan perempuan, maka jangan langsung pindah ke akhawat lain. Pembicara mengucapkan bahwa jika akhawat menolak, maka dia sebenarnya sedang menguji keseriusan si ikhwan. Cobalah untuk mengajukan prosesnya, sampai 3 kali, barulah pindah ke akhawat lain. 
  • (Tambahan penulis: kalau dari penulis sih, langsung saja pindah ketika ditolak hoho. Seenaknya saja mempermainkan perasaan, kita kan bukan dukun yang tau apakah dia menolak karena tidak mau, atau menolak karena ingin menguji keseriusan. Dalam menguji keseriusan, tidak perlu berbohong seperti itu, dalam mengajukan proses saja sudah termasuk serius kok)
  • Jika kita sering menolak seseorang karena alasan tidak sreg, maka kita harus siap untuk diperlakukan sama ketika proses nanti.
  • Pembicara telah mengorbankan banyak hal untuk berkeluarga, mulai dari kesendirian, kebebasan untuk menjelajah dunia, dan masih banyak lagi. Tapi pembicara tidak pernah berbicara bahwa ia menyesal. Pembicara berharap bahwa segala hal yang ia telah korbankan, akan disediakan di surga nanti atas ganjaran pengorbanannya dalam berkeluarga.

========================================================================

Sejujurnya penulis minder banget untuk mempublikasikan tulisan ini, karena tidak rapi hoho... Semoga ada niat untuk memperbaiki tulisannya menjadi lebih enak dibaca bagi teman-teman (semoga ga wacana hahahahahaha)
Bagi teman-teman yang mau berkomentar, untuk menambahkan (atau mengurangi), silahkan komentar di kolom yang sudah disediakan~

Semoga bermanfaat ya!
Wa billaahi taufiq wal hidayah
Wassalamu'alaykum warahmatullaahi wabarakatuh

Sunday, October 21, 2018

Notula SPN Hari Pertama

Bismillaah, 
Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh~

Sambil mengumpulkan tenaga dan membiasakan diri untuk menulis lagi, penulis mau latihan menulis dengan menulis tentang notula Sekolah Pranikah ah~

Sekolah Pranikah (selanjutnya disebut SPN) diadakan agar.... membantu mewujudkan rumah tangga yang tidak asal-asalan (ketahuan penulis ngga menyimak dengan baik). Intinya mendidik calon suami/istri agar siap mengarungi bahtera rumah tangga. SPN ini diadakan Masjid Salman ITB, rutin setiap semester diadakan 2 kali. Dalam satu kali pelaksanaannya, terdapat 9-10 pertemuan. Pada Oktober-Desember ini, susunan materi SPN kedepan adalah:

0. Perkenalan
1. Motivasi Menikah
2. Mengenal Karakter
3. Komunikasi Harmonis
4. Problematika Rumah Tangga
5. Sex dan kesehatan Alat Reproduksi
6. Fikih Nikah
7. Manajemen Keuangan Rumah Tangga
8. Pernikahan menurut Syariat Islam dan Hukum Negara

Penulis meminta do'a teman teman supaya bisa istiqamah untuk menulis notulanya seminggu sekali ya, hitung hitung penulis menulis di blog juga kan ya. Hatur nuhun, langsung cekidot gan.
========================================================================

Perkenalan

oleh: ust. H. Ayi Rohidin


1. Ta’aruf

Ta’aruf itu bukan sekedar saling mengenal biasa, tapi perkenalan yang memang tujuan akhirnya untuk menikah. Ketika ada lawan jenis mengajak ta’aruf, maka kita harus sadar bahwa tujuan akhirnya adalah pernikahan

Tidak makan-makan, jalan-jalan, murni mengedepankan ibadah kepada Allah 
Kalau belum siap menikah, jangan memulai ta’aruf
Jika siap menikah, laksanakan via perantara

Ta’aruf bukan masalah jadi ke jenjang pernikahan atau tidak. Yang penting adalah prosesnya. Segala nafsu yang muncul ketika ta’aruf ini, belokkan menjadi energi positif agar bisa melakukan kebaikan kebaikan. 

2. Apa saja yang perlu dipertanyakan?

Orientasi hidup. 

Untuk apa dia hidup, cari tujuan yang kira-kira bisa dicapai bersama. Aspek yang sering disamakan dalam hal ini adalah tujuan dalam beragama. Jika orientasi dari kecantikan/ketampanan, itu bisa rusak dan di luar sana ada yang lebih cantik/tampan.

Bagaimana menilai orientasi agamanya? Lihat dari ketaatannya. Apakah calon istri taat terhadap orangtua? Lihat bagaimana calon bisa menjaga harta dan lingkungannya, bagaimana calon bisa menjaga merawat diri sendiri (dan bersolek?) dan sekitarnya, termasuk harga diri sendiri dan calon pasangan. Haram hukumnya apabila kita menyampaikan aib keluarga kita.
Dengan berorientasi pada agama, kita bisa meredam semua godaan dan perpecahan yang mungkin terjadi saat berumah tangga nanti.

*Ini ngga tau kenapa tiba-tiba bahas ini*
Lelaki yang poligami, itu karena salahsatu dari 3 ini : Kaya, pejabat, atau nekat
Jika seorang laki-laki ingin poligami, ingatlah bahwa istri dan anakmu bisa menjadi fitnah bagimu, maka sebisa mungkin tolak poligami
Jika seorang perempuan, sikapi poligami sebagai pintu menuju surga, dan sebisa mungkin tawari suami poligami

Visi hidup. 

Ketika kita terus menerus berbicara tentang suatu hal, maka hidup kita ada disitu. Tanyakan apa mimpinya

3. Ada 2 ibadah yang senantiasa digoda oleh syaithan : Shalat dan menikah

Godaan syaithan terhadap pasangan yang belum halal : menggoda agar bersatu (dengan cara yang tidak halal)
Godaan syaithan terhadap pasangan yang sudah halal : menggoda agar berpisah dan cerai

4. Mahar

Mahar adalah suatu harga yang dibayarkan oleh suami, agar si perempuan ta’at dan patuh kepada suami.
Jumlahnya mahar boleh apapun, terserah istri. Namun seorang perempuan hendaknya tidak bilang “mahar saya terserah calon suami”. Pasanglah harga minimal. Namun, sebaik-baik wanita itu yang memudahkan maharnya. Seorang laki-laki tidak boleh memaksakan jumlah mahar seorang perempuan, tapi negosiasi jumlahnya boleh.

5. Ijab qabul

Ijab seorang ayah perempuan adalah, suatu kalimat yang menyatakan bahwa “Saya dengan istri saya, telah membesarkan dia dari kecil, mengorbankan uang, tenaga dan pikiran, mendidiknya, menjaganya. Sekarang, saya serahkan seluruh tanggung jawab ini kepada anda, tolong lakukan hal yang sama sebagaimana saya perlakukan anak saya dahulu kala”

Qabul seorang pria adalah suatu penerimaan dari tanggung jawab ayah yang telah diserahkan kepadanya

6. Materi lain

Mintalah kepada pasangan kita, untuk mentahlilkan di telinga kita saat sakaratul maut. Selalu minta pada umur berapapun, agar sadar bahwa kehidupan rumah tangga tetap dipisahkan oleh kematian

Mandul itu bukan suatu kejadian dimana kita tidak dikaruniai anak. Mandul itu, ketika kita punya anak namun mereka tidak memberikan keuntungan akhirat untuk kita. 

========================================================================

Pastinya masih banyak penjelasan ustadznya yang tidak saya tuliskan dalam post ini sih... Bagi teman-teman yang mau berkomentar, untuk menambahkan (atau mengurangi), silahkan komentar di kolom yang sudah disediakan~

Semoga bermanfaat ya!
Wa billaahi taufiq wal hidayah
Wassalamu'alaykum warahmatullaahi wabarakatuh

Thursday, October 26, 2017

Selamat Ulang Tahun!


"Waaaah, selamat ulang tahun! Baarakallaah fii umrik! Wilujeung tepang taun! Happy birthday! Buon compleannoSugeng tanggap warsaAlles Gute zum GeburstagOtanjoubi omedetou gozaimasu!"*
Tapi wait, hari ulang tahun adalah suatu hari kelahiran seseorang [1]. Pertanyaannya adalah - dalam memperingati hari ulang tahun, sistem kalender apa yang digunakan? Budaya negara manakah yang digunakan? Apakah sepenting itu memperingati hari ulang tahun? Apakah ulang tahun disyari'atkan dalam Islam?


=======================================================================


Bismillaah,
Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh!

Hai teman-teman, maafkan penulis menghilang beberapa bulan ini eheh. Penulis gausah bercerita tentang kesibukan selama ini ya, tidak penting dan bisa langsung ke inti cerita saja. Seperti pendahuluan yang dituliskan penulis di atas, tulisan kali ini akan menceritakan beberapa humble opinion penulis mengenai ? (mengenai apa saudara-saudara?) Yap! Mengenai per-ulang tahunan~



Karena ini adalah bulan Oktober, dan banyak orang keren yang lahir di bulan Oktober B-)


Pandangan berikut ini didapat dari berbagai obrolan dengan orang lain, dengan berbagai latar belakang, pergalauan diri sendiri, dan juga ilmu yang didapat dari orang lain. Namun pada penarikan kesimpulan, tentu pendapat penulis tidak bisa terlalu dijadikan referensi. Seperti judul blog ini, penulis hanya ingin berbagi : "Just Another Point of View" :)

Adapun jika teman-teman menjadi haus untuk mencari kebenaran yang hqq , maka silahkan mencari dan bertanya. Jangan nanya ke penulis :)) Silahkan bertanya kepada para ulama dan asatidz yang In syaa Allaah jauh lebih berilmu dan memiliki faedah-faedah yang lebih banyak dibandingkan penulis. Kalau ternyata teman-teman super sibuk, silahkan ketik di mesin pencari "Ulang tahun dalam Islam". Akan muncul contoh-contoh di bawah :


Hasil pencarian "Ulang tahun dalam Islam" (sumber: dok. pribadi)

Jangan lelah mencari kebenaran, teman-teman. Dan bagi yang sudah menemukan kebenaran hqq, tuntunlah teman-teman yang belum dengan cara sebaik mungkin. Jangan mengkafiri dan selalu berbaik sangka, atau terus berdo'a agar kita dan mereka meninggal dalam keadaan yang terbaik, dalam keadaan bertaubat, dalam keadaan Islam, dan keadaan yang husnul khatimah

Aamiin.

=======================================================================

Kira-kira, ada berapa macam kalender yang telah digunakan untuk menentukan "tahun" ? Di Indonesia sendiri, ada beberapa jenis kalender seperti Masehi, Hijriyah, Jawa, Sunda, Saka, Saka Bali, dan masih banyak lagi. Jika kita bertanya tentang "tahun berapakah saat ini?" maka jawabannya pun bisa bermacam-macam : 2017 Masehi, 1438 Hijriyah, bahkan salah satu kanal Youtube favorit penulis, Kurzgesagt - mengusulkan tahun ini adalah tahun 12017 dalam videonya.

Di negara yang berbeda, pemberian umur seseorang dilakukan dengan cara yang berbeda pula. Kebanyakan orang menggunakan kalender Masehi sebagai patokan umurnya, dengan definisi "umur 1 tahun adalah orang yang sudah berada di luar rahim ibu selama 1 tahun = 365 hari". Beberapa negara seperti Korea dan China, mendefinisikan "umur 1 tahun adalah ketika seseorang baru keluar dari rahim ibu". Penulis sempat bertengkar dengan teman penulis mengenai umur masing-masing :D

Percakapan penulis dengan kawan pena di China, setahun yang lalu (sumber:dok. pribadi)


Oh iya, beberapa negara juga menetapkan bahwa 1 Januari adalah hari dimana semua orang di negara tersebut bertambah umurnya. Mungkin, agar bisa menghemat biaya pesta ulang tahun kali ya :))

Sekarang, berapakah umur penulis? Kembali ke pertanyaan-pertanyaan di atas, tergantung penulis menggunakan sistem pemberian umur yang mana. Pada akhirnya, sistem tahun dan pemberian umur ini adalah hasil dari kesepakatan beberapa orang, dan bergantung pada perspektif orang tersebut. Perbincangan ini serasa hambar jika penulis tidak mengutarakan pendapat mengenai "waktu".

Pendefinisian detik (sumber :Wikipedia[2] )

Bagi penulis, pendefinisian "1 detik = radiasi atom bla bla bla, 1 hari = 1 kali rotasi bumi, 1 tahun =" dan masih banyak lagi, adalah hanya suatu cara bagi manusia untuk melakukan pengukuran terhadap waktu. Sama seperti satuan panjang atau berat, agar masing-masing manusia bisa mengukur waktu dalam kesepakatan bersama. Namun seperti yang terlihat saat ini, penulis bahkan bisa saja membuat sistem waktu sendiri - misal mendefinisikan 1 minggu ada 4 hari : Onde, Mande, Tusde, Wenesde. Maka pendefinisian 1 bulan dan 1 tahun pun bisa menyusul kemudian. It's all about perspective and mutual agreement.

Setelah mengetahui pentingnya pengukuran waktu, apakah ulang tahun juga penting? Jika ternyata ketika seseorang ulang tahun, maka akan didoakan keberkahan umurnya, diberi kado, kue, dan kejutan, maka penulis berharap bahwa setiap hari adalah ulang tahun penulis! Karena mbok ya tahunnya kan tahun yang dibuat sendiri eheh. Tapi kalau ternyata jadinya harus traktir makan setiap hari, hmm ngga jadi deh.


Sekarang, bagian yang paling kontroversional. Tarik nafas dalam-dalam. Jangan lupa buang nafas. Silahkan bernafas normal kembail.

Penulis sendiri ingin sekali berperilaku di dunia ini dengan mencontoh the first most influential on the earth, manusia terbaik yang tidak hanya mengukir namanya dalam buku sejarah, tapi beliau juga berhasil mengukir namanya di hati orang-orang jauh setelah zamannya, dan paling penting telah mengukir namanya di langit. Dan SEPENGETAHUAN PENULIS (maaf kalau pengetahuan penulis sedikit sekali), bahwa Rasulullaah shallallaahu 'alaihi wa sallam tidak mengucapkan selamat milad ataupun mendoakan keberkahan umur seseorang pada hari kelahirannya saja. 

Maka dari itu, penulis juga melakukan hal yang sama. Tidak merayakan hari ulang tahun sendiri, tidak mengucapkan selamat ulang tahun pada orangtua, dan tidak juga membuat spesial hari kelahiran Rasulullaah shallallaahu 'alaihi wa sallam.

Bagi teman-teman yang mungkin tau riwayatnya, silahkan cantumkan di kolom komentar ya, penulis ingin menambah sudut pandang yang baru juga :)

=======================================================================

Ulang tahun sering dijadikan sebagai momen bersyukur dan bersenang-senang karena masih diberikan umur hingga saat itu. Ulang tahun juga kadang dijadikan sebagai momen renungan bagi seseorang karena waktunya di dunia telah berkurang dan semakin dekat jaraknya dengan kematian. Tapi hey! Apakah harus menunggu 1 tahun Masehi untuk melakukan hal tersebut? Kenapa tidak menggunakan tahun Hijriyah saja, yang waktunya relatif lebih sedikit - sehingga bisa dilakukan lebih sering? 

Bahkan, kenapa kita tidak bersyukur dan merefleksikan perbuatan diri sendiri, setiap hari?

Dalam Islam sendiri, telah jelas bahwa manusia berada dalam kerugian dan digambarkan dalam waktu yang terus berjalan dan akan habis [3], Maka introspeksi umur sebaiknya tidak dilakukan setahun sekali, tapi setiap hari - agar tidak menjadi manusia yang menyesali diri sendiri.

Penulis TIDAK MELARANG teman-teman untuk mengucapkan ulang tahun kepada penulis. Tapi penulis sangaat berharap, bagi teman-teman yang ingin memberikan penulis kado atau kue, maka penulis sangat terbuka, setiap hari apapun, boleh - tidak harus menunggu hari ulang tahun :))
Bagi yang ingin mendo'akan keberkahan penulis, juga sangat ditunggu do'anya, kalau bisa setiap hari ya, setiap shalat :)

Semoga kita tidak termasuk orang yang mengalami kerugian - bisa mensyukuri umur yang telah diberikan, dengan melakukan usaha terbaik dalam kehidupan kita :')
Semoga bisa mencontoh Rasulullaah shallallaahu 'alaihi wa sallam, diberi kelapangan hati untuk menerima ilmu dan hidayah dari-Nya.

Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh.

PS : Kenapa penulis membuat tentang tulisan ini pada hari ini? Tidak ada hubungannya dengan ulang tahun penulis, ini hanya karena banyak teman-teman penulis yang lahir di bulan Oktober. Dan mayoritas adalah orang yang dekat dengan penulis :)

*berbagai ucapan ulang tahun dalam berbagai bahasa. Dimulai dari paling awal : Bahasa Indonesia; Bahasa arab (terjemah : Semoga Allah memberkahi umurmu) ; Bahasa Sunda; Bahasa Inggris; Bahasa Italia; Bahasa Jawa; Bahasa Jerman; Bahasa Jepang;

Sunday, April 2, 2017

Wisuda atau Bagi Raport ?

Bismillaah....
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh !

Hai teman-teman, pernah mendengar kalimat seperti judul di atas? Kalimat yang akhir-akhir ini menjadi agak viral di kalangan perguruan tinggi yang sedang merayakan momen wisuda - tampaknya karena ada massa kampus yang niat banget membawa spanduk seperti di bawah:

Asal muasal meme "Wisuda atau Bagi Raport"

Kalau membawa pendamping wisuda (selanjutnya akan disingkat PW) berarti dibilang wisuda, kalau hanya membawa orangtua dan keluarga dibilang bagi raport :))

Tanggal 1 April 2017 lalu, penulis pun mengalami momen wisuda dari suatu institut teknologi di Bandung, dan status penulis bisa dilihat sesuai gambar berikut:


Eh maaf penulis salah unggah, harusnya foto yang ini :

Pendamping Wisuda Penulis

Jadi, status penulis saat 1 April 2017 lalu adalah "Wisuda" ! Yeay~

PW penulis tidak lain dan tidak bukan adalah wanita tercantik di dunia, tak diragukan kemampuan memasaknya, sabar tiada tara, guru-akuntan-istri-ibu-semuajadisatu ! Wanita yang mendebarkan jiwa, merasuk di sukma, terpanut selamanya (penulis sedang berusaha untuk memuji beliau setinggi-tingginya, tapi apa daya wkwk)

Beliau adalah... Ummi* Nurhayati <3

Ummi beserta anak-anaknya dan suaminya, Abi - datang untuk menemani penulis di hari yang kata orang “today is yours”. Banyak teman-teman penulis yang datang memberi selamat ini itu, foto bersama ini itu, tapi mayoritas dari mereka hanya datang di saat yang berbahagia – bahkan sepertinya hanya sedikit yang terbangun di sepertiga malam untuk mendoakan penulis melewati sulitnya masa-masa sebelum wisuda. 

Ingin rasanya.. penulis mengatakan “today is ours” :’)

Keluarga Penulis

Namun bukan berarti penulis tidak menghargai teman-teman yang lain :’) Kalian da best kok! Memang ada saatnya kita senang bersama, susah sendiri *eh bersama maksudnya. Penulis berterima kasih sebanyak-banyaknya untuk pihak yang memberi hadiah, pihak yang cuma minta foto, pihak yang memberi selamat lewat medsos, pihak yang mendoakan secara diam-diam *eh, dan pihak-pihak lainnya :)

Mungkin di lain kesempatan penulis akan membuat tulisan mengenai teman-teman yang datang saat wisuda penulis. In Syaa Allaah.


======================= HIKMAH ===========================

Okay balik lagi ke masalah wisuda atau bagi raport. Beberapa diantara teman-teman mungkin ada yang protes bahwa “Ah penulis bercanda nih, masa bawa keluarga aja dibilang wisudaan, itumah bagi raport!”

Err gini ya teman-teman... Sekilas meme tersebut memang lucu dan penulis pun sempat mem-viralkan quotes tersebut, hingga beberapa menit kemudian teman penulis bernama teh Feranti membagikan meme tersebut dari sudut pandang yang berbeda, yang membuat penulis tersadar dan langsung merasa bersalah.

Respons teh Feranti yang menusuk raga *bukan promosi OA

Dibalik kelucuannya...... rasanya (secara tidak langsung) merendahkan status orang tua penulis. Teman-teman merasa gitu juga, ngga? Seakan-akan orangtua kita itu... ah gitu weh lah, penulis tak bisa menuliskan kata yang tepat untuk menggambarkan hati yang gundah gulana akibat meme ini. Sontak penulis menghapus postingannya dan bertekad untuk menulis blog tentang hal ini... suatu hari nanti... Dan voila ! Jadilah beberapa kalimat dan cerita di atas.

==================================================================

Oh iya karena penulis pernah mengalami hal yang sama.... Bagi teman-teman penulis yang belum wisuda, penulis hanya bisa memberikan semangat! Memang penulis tidak merasakan penderitaan se-lama kalian, tapi penulis juga pernah kok ditinggal wisuda ehe.

Jika butuh curhat atau apapun, teman-teman bisa meminta tolong kepada Allah – Penulis sih mau-mau saja mendengarkan curhatan dan ingiin sekali membantu teman-teman, tapi apa daya kalau penulis hanyalah makhluq yang tidak bisa melakukan apa-apa...

Iyyaaka na’budu – Hanya kepada-Mu lah kami menyembah
Wa iyyaaka nashta’iin – dan hanya kepada-Mu lah kami meminta pertolongan

Hayo, minimal 17 kali bilang seperti itu loh~ Semangat semangat !

Sebagai penutup... Penulis berharap semoga kedepannya tidak meremehkan status orang tua yang sudah mendidik kita hingga akhirnya menjadi pribadi yang seperti ini.. Walau tentu masih banyaak sekali kekurangan yang dimiliki, tapi itu munculnya dari diri penulis :’) Terima kasih ya Allaah, Engkau telah melahirkan dan mendidikku melalui keluarga yang saat ini kumiliki. Ampunilah kesalahanku dan kesalahan kedua orang tuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil.

Terima kasih buat teman-teman yang masih stay tune sama penulis yang ceritanya ga jelas seperti ini :’) Tepuk tangan untuk kalian semua!

Wassalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuh

*Ummi (Bahasa Arab) berarti Ibuku dalam bahasa Indonesia, Abi berarti Ayahku. Ummi - Abi adalah panggilan yang dipakai penulis kepada Ayah dan Ibu penulis.

Wednesday, March 15, 2017

7 Days Qur'an Challenge

Bismillaah..
Assalamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh!

Halo teman-teman :D Beberapa waktu yang lalu, penulis memperhatikan banyak orang yang mem-post satu-dua ayat Qur'an di timeline Instagram. Setelah diperhatikan lebih lanjut, ternyata mereka mendapat tantangan berupa #7daysquranchallenge

Ngapain sih, challenge nya? Yang pasti tidak menyebabkan kematian seperti sk*pchallenge yang akhir-akhir ini juga beredar di anak-anak muda sekarang (sedih). Penulis merasa bahwa ini tantangan positif yang membuat orang-orang yang ditantang menjadi lebih dekat dengan Al-Qur'an. 

Challenge ini mengharuskan orang yang di-tag untuk mempost ayat-ayat Al-Qur'an selama 7 hari, dan men-tag seseorang pada setiap post untuk melakukan hal yang sama.


Awalnya penulis agak malu untuk inisiatif post sendiri ikutan challenge ini, tapi da penulis mah' apa atuh :"(
Namun akhirnya penulis (berhasil membuat dirinya) di-tag oleh kang Shidiq di postnya pada hari ke-2. Yah, mau gamau (aslinya sih mau) akhirnya penulis ikut #7daysquranchallenge (yeay >_< )


Sebelum memasuki post-post ayat Al-Qur'an yang akan dibuat, penulis ingin mengingatkan bahwa penulis sendiri masih tidak pantas untuk menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an sendiri dan sekenanya. Alangkah sangat jauh lebih baik pisan banget jika teman-teman mencari tafsir aslinya misal pada tafsir Ibnu Katsir atau ikut pengajian yang membahas tafsir Al-Qur'an.... Sip ya? Mantap!

Sebagai gambaran, penulis In Syaa Allaah akan mem-post 7 ayat berikut (lafadz basmalah di awal surat tidak dihitung) :

1. Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 1,
2. Al-Qur'an surat Al-Muddatstsir ayat 3,
3. Al-Qur'an surat Ali-Imran ayat 200,
4. Al-Qur'an surat Al-Muthaffifin ayat 1-3,
5. Al-Qur'an surat Al-Insyirah ayat 5-6,
6. Al-Qur'an surat Yusuf, dan
7. Al-Qur'an surat Al-Qamar ayat 17.

Yah, spoiler dong ? Haha ya bisa jadi, suka-suka penulis lah mau membocorkan atau ngga -_- 
(Ssst, sebenarnya ini ditulis biar penulis tidak lupa mau menulis ayat yang mana saja, maklum.. penulis pikun :'D )

Sepertinya asik juga kalau blog ini diisi juga dengan ayat-ayat Al-Qur'an - dan memang pada beberapa tulisan yang telah dibuat, penulis mencoba mengaitkannya dengan Al-Qur'an dan Al-Hadits yang terasa cocok(logi) bagi penulis. Semoga kedepannya usaha penulis untuk menulis berbagai hikmah yang didapat dari Al-Qur'an dan Al-Hadits tidak berhenti sampai disini saja, aamiin.

Sebagai penutup, ada pesan dari penulis : kalau mau ikutan  #7daysquranchallenge , langsung aja post ! Gausah nunggu di-tag sesorang :'D Atau kalau mau, bilang aja di-tag sama penulis di @rfathulazhar.. Ga bohong kok, 'kan penulis yang ngajak teman-teman semua :3

Semoga teman-teman yang lain juga ikut #7daysquranchallenge ini, dan kita semua ikut menyebarkan kebenaran - walau cuma satu ayat~

Wassalamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh~

Monday, March 6, 2017

Kapan Wisuda ?

Bismillaah...
Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh!

Hai kawan-kawan~ Penulis kembali lagi menulis blognya yang sudah lumayan usang hehe. Tulisan ini di dedikasikan terhadap orang-orang yang kepo terhadap status kemahasiswaan penulis. Karena diterpa satu-dua cobaan dan ujian, penulis mencoba mentransfer energi negatifnya menjadi tulisan yang siapa tau bermanfaat dan memberi hikmah kepada kawan-kawan pembaca semua :')

Pertama-tama, penulis ingin memberitahukan bagi kawan-kawan luar ITB, bahwa "jatah" yang disediakan kampus gajah untuk berkuliah adalah maksimal 6 tahun, dengan tingkat kelulusan rata-rata FTMD (fakultas penulis) adalah 5 tahun.

Tentu tetap saja ada yang lulus 3,5 tahun dengan kegiatan kampus yang aktif dimana-mana dan softskill yang mumpuni - ah, terpanut di qalbu*, lah! Namun, itu tidak menjadikan alasan untuk membanding-bandingkan seseorang berdasarkan tahun kelulusannya.

=======================================================================

"Lulus kapan?" Pertanyaan yang acapkali diajukan kepada penulis ketika bertemu dengan seseorang yang merasa dirinya peduli. Penulis dapat mengenali kok, mana yang peduli dan mana yang basa-basi :3 Bukan indra keenam, tapi kalau kata orang itu punya sense perasa tersendiri. Orang yang peduli itu orang yang mengetahui seluk-beluk, naik-turun, dan tajamnya pertugasan penulis, bukan orang yang seenaknya nanya pertanyaan sakral tersebut tanpa memikirkan kondisi penulis.

Penulis pernah membaca komik Bencana Lisan karya Vbi_djenggotten dari teman saya (maaf ga' modal) tentang suatu kisah :
Sebut saja A yang secara asal menanyakan "Kapan nikah ?" kepada B, tanpa memikirkan latar belakang si B. Ternyata B sudah mencoba melamar banyak akhawat namun belum takdirnya untuk menikah. Nah loh, A bisanya nanya doang nih, si B kan jadi teringat masa lalunya heuh.

Daripada menanyakan hal yang berpotensi menyakitkan hati yang ditanya, lebih baik membantunya menyelesaikan masalahnya. Pada cerita tersebut juga disampaikan bahwa akhirnya ada si C yang tidak hanya menanyakan "kapan nikah" tapi juga membantu mengenalkan B pada temannya yang mau menikah juga. Happy ending, deh!

Kasus yang demikian, penulis banyak mengalaminya. Ketika dinasihati sedemikian rupa, alasannya : "Biar dido'akan".... Penulis berbaik sangka saja kalau sang penanya benar-benar mendo'akan penulis. Jangan lupa do'akan penulis saat hujan dan di sepertiga malam ya, jangan cuma pas dinasihatin aja :P

Kalimat tadi adalah nasihat buat penulis agar tidak asal nanya - jika kawan-kawan merasa tersentil dan tersadarkan, itu pasti hidayah dari Allah subhanahu wa ta'ala :) Teruntuk kawan-kawan yang suka ditanya seperti penulis, baiknya berbaik sangka juga dan berterima kasih kepada penanya karena sudah memikirkan kawan-kawan :)

========================================================================

Jadi, lulus kapan? Penulis In Syaa Allaah akan lulus saat wisuda nanti, HAHAHAHAHAH (thank you, Mr. Obvious)
Pada suatu waktu nanti, Allah azza wa jalla telah menuliskan takdir terindah untuk penulis di Lauh Mahfuz. Penulis sekarang hanya perlu berusaha sekeras mungkin, berlepas diri kepada-Nya selepas-lepasnya, dan selalu bersyukur dan berprasangka baik atas pilihan takdir-Nya. Ikhtiar-tawakkal kalau kata kawan-kawan penulis.

"Penulis kan, mapres.. ko bisa belum lulus?" kemapresan penulis hanya hoax yang harus segera dihentikan, dan status mapres seseorang bukan penentu waktu kelulusan

"Penulis kan, cumlaude.. ko bisa belum lulus?" sama aja say, status cumlaude bukan penentu waktu kelulusan seseorang. Bagi penulis, cumlaude atau tidak cumlaude hanya dibedakan dari dapat-boneka-dan-flashdisk-dan-update-status-bijak-dan-panggilan-tambahan-saat-wisuda, nothing more.

Semua punya timeline nya masing-masing. Ada yang lulus cepat, ada yang ga lulus-lulus. Ada yang nikah cepet, ada yang ga nikah-nikah. Ada yang mati cepet, ada yang ga mati-mati (iya kamu, kenapa ga mati-mati sih - canda :P). Semua ada waktunya, tak ada kata terlambat, tak ada kata terlalu cepat, Kita tidak berlomba dengan orang lain, kita berlomba dengan diri kita yang kemarin. Sungguh merugi, orang yang dirinya pada hari ini sama dengan dirinya yang kemarin.

========================================================================

Banyak hikmah yang penulis dapat dari ditundanya kelulusan penulis.

Penulis jadi dapat bertemu dengan berbagai macam orang dengan berbagai latar belakang dan problematika hidup. Membuat penulis sering tertonjok dan merasa kurang bersyukur atas segala yang dihadapi oleh penulis. Bertemu dan dekat dengan seseorang yang punya penyakit parah, dengan seseorang yang broken home, dengan seseorang yang akademiknya terancam, yang bingung bagaimana caranya je Jepang pun ada ^^v

Penulis jadi sadar kalau penulis masih belum sabar, masih banyak update status galau dimana-mana dan banyak curhat kemana-mana. How shameful you are! Masih sering moody dan nyebarin badmood nya kemana-mana.

Penulis juga ditegur langsung oleh Allah subhanahu wa ta'ala :') Akhir-akhir ini sering dapat surat At-Talaq (surat ke 65), yang potongan ayatnya berbunyi :

"... Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar (ayat 2)"

"... Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu (ayat 3)"

"... Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya (ayat 4)"

"... dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya (ayat 5)"

dan yang paling kena,
"... Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan (ayat 7)"

Walau secara teori tau, penulis jarang menerapkannya di dunia nyata. Penulis tahu kalau begini dan begitu, dan harusnya begini dan begitu. Seringkali nasihat dan semangat teman hanya di "ya iyalah itumah common sense". Maafkan penulis kawan-kawan, tolong maafkan.

========================================================================

Sebenarnya, masih banyak yang ingin penulis sampaikan.. namun, entah mengapa rasanya tulisan dalam satu judul ini sudah terlalu banyak ><
Jika Allah mengizinkan, maka penulis akan membuat bagian dua dari -telatnya kelulusan penulis- 

Bahkan dalam telatnya kelulusan yang sekarang pun, penulis sebenarnya yakin bahwa Allah punya rencana dan hikmah hikmah lain untuk penulis. Namun penulis belum menemukan cara yang pas untuk mengekspresikannya lewat status-status media sosial hehe

Sekian dulu dari penulis, semoga kawan-kawan yang sedang berjuang menyelesaikan kuliahnya diberi kekuatan lebih oleh Allah subhanahu wa ta'ala untuk menyelesaikan amanahnya, dan tidak cepat berputus asa seperti penulis :'))

Penulis mohon maaf apabila ada yang tersinggung dengan tulisan ini. Kesamaan peristiwa pada cerita diatas disebabkan oleh kesengajaan penulis :P

Semoga kawan-kawan mendapatkan hikmahnya masing-masing, dan mendapatkan sudut pandang yang lain dari sisi penulis !

Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh

*terpanut di qalbu = ekspresi penulis untuk mengungkapkan rasa kagumnya terhadap orang yang terbaik dan panutan di jiwa

Tuesday, January 10, 2017

Ada Hamdalah di Setiap Musibah

Bismillaah... Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh~

Halo teman-temanku yang kucinta~ Yang setiap hari berusaha menjadi lebih baik dari dirinya yang kemarin, yang selalu berusaha menjadi manusia yang bermanfaat di bumi ini, yang ingin bertemu suri tauladan kita, Rasulullaah -shalawat dan salam semoga tercurahkan kepadanya-

Jangan lupa untuk selalu bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala teman-teman! Apa? Ga dapet kelas favorit? ketiduran pas perang ol akademik? Dapet dosen ampas? IP semester ini turun jadi 3.9 ? Ga lulus-lulus? Ga punya uang? Putus dari pacar? Wahh yang gini ini nih. Kebetulan sekali penulis mau cerita pengalaman tadi siang saat penulis akan bimbingan bersama dosbing 2 di Polban. (Ko Polban ? Sst panjang itu dijelasinnya, nanti In Syaa Allaah ditulis ko per-TA-an penulis seperti apa)

Kembali lagi ke cerita pengalaman penulis. Karena jauh dari rumah, eh kosan kampus, penulis meminjam motor temannya. Semua berjalan baik-baik saja, hingga setelah melewati gerbang bawah, beberapa puluh meter dari kampus Polban... terdengar suara aneh “cklek, grtgrtgrt” (bukaan, ini mah bukan cerita horor pocong ngesot). Motor yang dipinjam penulis tiba-tiba berhenti. Tidak ada perlambatan, langsung berhenti seketika, walaupun mesin motor masih menyala. 

Penulis pun turun dari motornya dan memeriksa keadaan sekitar. Gasp! (alay). Ternyata rantai motornya tersangkut di roda belakang (kebayang ngga? Kalau ngga, nih fotonya)


Karena merupakan seorang pengendara sepeda, spontan saja penulis mencoba menarik rantai dengan kedua tangannya. Apa daya bukanlah sepeda, rantai motor tetap tersangkut meskipun oli membuat kedua tangan penulis menjadi mawut. Mencoba mencari alat-alat di bagasi motor – ada satu-dua obeng dan kunci inggris! Alhamdulillaah... penulis pun mencoba bagaimana caranya agar rantai tidak tersangkut lagi.

Biasa aja sih, ga penuh-penuh amat. Dasar penulis lebay.

Hasilnya tetap nihil. Meskipun tangan penuh oli, penulis mencoba mengabari sang pemilik motor, sekaligus mengabari dosen pembimbing bahwa penulis mengalami beberapa persoalan sehingga tidak dapat datang tepat waktu. Alhamdulillaah.. Beliau mengerti dan mengizinkan saya datang telat.

Celingak-celinguk melihat sekitar, penulis mencoba mencari bala bantuan. Alhamdulillaah... ternyata ada bengkel beberapa meter dari situ.

Langsung shikat dengan bahasa Sunda, rantainya bisa dikeluarin sih, tapi bengkok banget sampai tukang bengkelnya mengeluarkan fatwa : “inimah harus beli lagi A, udah bengkok pisan”* “Ah sawios we A meser deui mah, eta emang tos bengkok kitu” balas penulis. Tapi si tukang bengkelnya tidak patah semangat – dipanggil seniornya yang mungkin ahli meluruskan yang bengkok –  sehingga beberapa menit berlalu, rantainya hampir seperti baru! Yah, walaupun tidak bisa 100% kembali ke kondisi semula karena sifat material rantainya seperti itu. Alhamdulillaah... motornya masih bisa dibetulkan.

Untung rantainya nyangkut dibelakang motor, kalau nyangkutnya di bagian depan bisa-bisa kena mesin – kebelah –harus dilas kalau ngga diganti – wah lebih repot lagi itu :(

Alhamdulillah pas rantainya nyangkut, kecepatan motor saat itu lagi lambat.

Alhamdulillaah pas rantainya nyangkut, jalanan lagi sepi dan gaada kendaran yang nyeruduk dari belakang.

Kehilangan beberapa rupiah saat itu masih belum apa-apa dibandingkan kehilangan nyawa. Atau mungkin kehilangan anggota badan ? Sambil nantinya dirawat di rumah sakit dan mengeluarkan biaya yang lebih besar dibandingkan dengan biaya perbaikan motor di bengkel. Sungguh ternyata Allah itu sayaang banget sama kita, namun ternyata kita (khususnya penulis) masih sering melupakan nikmat yang Dia berikan. Mulai dari nikmat Iman, nikmat Islam, nikmat sehat, nikmat waktu luang, bahkan nikmat untuk mengingat nikmat (bingung ga? hayoloh).

Setelah sampai di Polban, ternyata Bapaknya masih sibuk ini itu sampai beberapa jam kemudian :'D
Kesal? Engga. Alhamdulillaah, dikasih kesempatan waktu luang buat nulis draft kisah ini. Biasanya kalau penulis ngga mulai nulis draft, jadinya suka wacana, hehe.

Cari hikmah di setiap kesulitan yang kita temui. Harap sabar, ini ujian. Ini ujian dari Allah Subhanahu wa Ta'ala :3

Jika kita tidak menemukan hikmahnya, maka percayalah bahwa Allah menyediakan kemudahan setelah kesulitan yang teman-teman alami. Jika teman-teman yakin dengan pasti bahwa gravitasi itu ada, masa' ngga percaya dengan janji Allah yang diucapkan dua kali berturut-turut ?

"Maka sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan." QS Al-Insyirah ayat 5-6

Al-Qur'an yang tidak ada keraguan didalamnya - tercantum "sesungguhnya", kemudian ditulis dua kali! Combo extra auto terharu! :')

Akhir kata, penulis ucapkan terima kasih buat teman-teman. Alhamdulillaah ada yang mau baca pengalaman penulis yang biasa-biasa aja. Penulis hanya ingin membuat reminder buat penulis sendiri kok, Kalau misal teman-teman ikut dapat remindernya ya Alhamdulillaah... :)
Semoga kita menjadi people of "Alhamdulillaah", ada video bagus juga dari ustadz favorit penulis, Nouman Ali Khan - disini - mangga ditonton. 

Wa billaahi taufiq wal hidayah, 
Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh~

Thursday, November 24, 2016

LKM II ITB - Adab Bertamu


Bismillaah... Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh~

 Halo halo teman teman~ maaf saat ini penulis sedang hectic menyelesaikan amanah perkuliahan ._.
Tapi dibalik kesibukannya dalam mengerjakan tugas akhir, penulis tidak lupa bekerja dan mencari penghasilan untuk menafkahi.... dirinya sendiri. 

Ini salah satu hikmah yang didapat penulis saat "bekerja" mencari nafkah :D
Rabu malam, 2 November 2016 lalu - penulis bermaksud untuk mendaftar menjadi volunteer di suatu event di Jakarta - biar dapet kecengan *eh - kenalan *eh - penghasilan maksudnya haha. Saat ingin mendaftarkan diri di Instagram (Iya, penulis punya instagram : rfathulazhar) tiba-tiba terfikirkan buat bantu publikasi acaranya Salman ITB ke kang Luthfie - eh malah ditawari untuk jadi fasilitator di acara Latihan Kepemimpinan Mahasiswa (selanjutnya ditulis LKM) II ITB 2016.

Apa itu fasilitator ? Fasilitator adalah orang yang bertugas untuk memberi fasilitas - pada acara ini, bisa dibilang panitia x'D Lebih spesifiknya sih sebagai logistik, tapi pada hari-H fleksibel juga masuk ke acara, walau ga sampe ngurus perizinan maupun perdanlapan, yah, jadi orang teater ada, jadi pengawas ada, dokum bisa, time keeper oke~

Hingga datang hari-H, berangkatlah kami para fasilitator dan seluruh peserta ke SECAPA AD Bandung dari Lapangan Basket ITB pada pagi hari - dimana saat itu penulis masih khawatir sekali karena draft laporan Tugas Akhir penulis harus dikumpulkan hari itu juga T_T Tapi yaa solved akhirnya... mungkin. Semoga ga kebawa sampai sekarang :')

Acaranya? Lumayan, ada pengenalan lingkungan dan aturan di SECAPA AD Bandung, sambutan, apel, materi, games, acara-cara kepemimpinan gitu lah. Sampai pada malam terakhir menginap... ada satu acara yang belum pernah penulis alami di acara-acara lain. Sesi yang sebenarnya sudah menjadi common sense untuk dilakukan - namun tergerus oleh perkembangan zaman.

 Sesi silaturahmi antara tuan rumah dan panitia.

Silaturahmi kepada yang empunya rumah, karena sejatinya saat itu kita adalah tamu. Dari sekian banyak adab bertamu yang diajarkan dulu saat sekolah, ternyata hal yang satu ini sering sekali luput dari pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari. Mengenal tuan rumah, dan juga memperkenalkan diri agar dikenal tuan rumah. Selain untuk keamanan rumahnya, tuan rumah jadi bisa memberikan pelayanan lebih agar sang tamu merasa menjadi raja - dalam konteks positif - dan mempererat silaturahmi pada dua belah pihak.

Mahasiswa sebagai tamu
Dan tidak hanya saat acara-acara saja. Penulis sebagai mahasiswa sering mendapat keluhan dari tetangga maupun dari pejabat RT RW sekitar, bahwa zaman sekarang sudah jarang sekali ada silaturahmi dari para mahasiswa yang menetap sementara di daerah tersebut. 

"Mereka baru datang ke kantor kami pas ada barang kecurian aja"

Hm... Seperti itukah tamu seharusnya bertindak ? "Datang disaat ada butuhnya" itu slogannya seorang teman, bukan tamu x'D Tapi hey, ini serius - kita ini tamu loh. Sebagai orang yang merantau dan menetap di suatu daerah, apalagi namanya kalau bukan tamu? Lantas... kenapa tidak memperkenalkan diri kepada tuan rumah? Ada juga slogan yang sudah sangat jarang dilakukan oleh orang-orang zaman sekarang:

"Tamu lebih dari 1x24 jam wajib lapor" [1]

Dari sekian banyak adab bertamu, hal ini sering sekali dilupakan. Dengan melaporkan keberadaan kita, maka pejabat sekitar, penduduk sekitar, akan tahu bahwa kita menetap di daerah mereka. Mereka akan tahu bahwa orang yang suka keliaran jam 3 itu ternyata ngekos di rumah itu, dan bukan maling. Dengan melapor, penduduk akan bersikap ramah terhadap kita karena kita akan dianggap sebagai tamu yang beradab, dan patut untuk diberikan pelayanan yang layak.

Belum lagi sebagai tamu, seringkali kita melanggar peraturan peraturan setempat. Penulis paling sebel sama orang yang pulangnya jam 3 tapi motornya ga dimatiin -"- Oke fine saya sih tidak masalah, belum tidur juga jam segitu *eh curhat*. Tapi mbo ya pikirkan penduduk setempat yang baru pulang kerja, atau mungkin anaknya baru bisa tidur jam segitu... Sebagai tamu, kita kadang-kadang bertingkah (sangat) kurang ajar (sekali).

Yaa alhamdulillaah kalau situ pembaca udah sering kenalan sama penduduk asli di satu acara atau kasus-kasus lain, kebetulan penulis ini cuma berbagi ke orang yang belum melakukan :v

Manusia sebagai tamu
Tau gak, apalagi yang sering kita lupakan bahwa kita itu adalah seorang tamu ? Yak, manusia adalah tamu di bumi ini, di dunia ini. Telah jelas bahwa manusia hidup hanya sementara, dan manusia tidak memiliki bumi maupun dunia ini seutuhnya. Manusia tidak berhak untuk bertindak semena-mena karena.... ya karena manusia tidak memiliki apapun di bumi ini.

Seringkali bahwa penulis menjadi tamu yang kurang ajar karena tidak mengenal siapa tuan rumahnya. Penulis menjadi tamu yang kurang ajar karena melanggar aturan-aturan tuan rumah, dan tidak melaksanakan adab-adab bertamu yang sepatitnya dikerjakan. Disini proses introspeksi dirinya penulis serahkan ke masing-masing aja ya....

Akhir kata, penulis ucapkan terima kasih buat teman-teman yang mau bertamu dan membaca tulisan ini >_< Penulis meminta maaf sebesar-besarnya jika masih belum bisa menjadi tamu yang baik dan beradab. Semoga kita diberi kekuatan dan kesadaran untuk mengingatkan satu sama lain~

Oh iya, ini dokumentasi LKM kemarin, tapi isinya kebanyakan peserta.. buat fasilitatornya sih katanya belum diupload haha. Sedot aja langsung ke TKP gan~


Wa billaahi taufiq wal hidayah, 
Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh~



Monday, November 7, 2016

Mentoring Selasa Pagi - Setelah Hati Telah Lama Tak Dibasahi



Koridor Timur Masjid Salman ITB di pagi hari

Bismillaah... Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh~

There's something special this morning. But before that, let me tell some terms that you might not know:
Mentor (KBBI) = pembimbing atau pengasuh (biasanya untuk mahasiswa)
Mentee (Merriam-Webster) = orang yang dimentor oleh mentor
Mentoring = suatu kegiatan berupa transfer pengetahuan dari seorang mentor kepada mentee. Namu tidak memungkinkan jika ternyata mentor-lah yang mendapatkan pengetahuan dari sang mentee , karena yang namanya ilmu itu - menurut penulis - bisa didapat dari siapa saja dan dari mana saja. 

Contohnya seperti pagi ini.

Karena kesibukan yang membuat penulis menjadi orang yang paling (sok) sibuk sedunia, penulis tidak melakukan kegiatan yang namanya mentoring - baik ngementor ataupun dementor.. eh, dimentor maksudnya hehe.

Banyak sekali penurunan yang dialami oleh penulis dari sejak terakhir kali mentoring, baik dari segi spiritual maupun secara fisik. Ibadah harian, sharing motivasi, ah, pokona loba pisan. Sampai pada akhirnya, sering sekali mentee yang ngajak: "kak, mentoring lagi yuk" dan penulis cuma bisa hayu-hayu bari cicing (ayo tapi malah diem). Di jalan sih, suka kepikiran "Nanti ngeinisiasi di grup mentoring ah" tapi sayang sekali selalu jadi wacana T_T

Sampai pada akhirnya Helmi-lah yang ditakdirkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk menginisiasi per-mentoring-an di grup dimana penulis menjadi mentor. Dan memang,

"The journey of thousand miles begins with one step" - Lao Tzu

Inisiasi adalah salah satu hal yang paaaaling sulit yang penulis alami selama ini. Banyak orang yang sadar akan masalah yang dihadapi, namun sedikit yang mau menginisiasi dalam memecahkan masalah tersebut. Ah, ini saatnya sang mentor mengambil catatan pada buku tulis kecilnya, bahwa inisiasi bisa mempermudah kita dalam melakukan hal-hal lainnya.

Dan terpilihlah, Selasa pagi sebagai hari "perdana" mentoring, setelah sekian lama. Saat itu, Helmi sudah datang dan sedang mengincar sarapan gratis dari KKP ITB (setiap hari Selasa, Rabu, dan Jum'at pagi - selama persediaan masih ada, mulai dibagikan jam 06.00 WIB. Alhamdulillaah penulis juga dapat hehe). Setelah itu kami pindah ke koridor timur Masjid Salman ITB. Walau belum ada mentee lain yang datang, mentoring tetap harus dimulai karena penulis berjanji untuk memulai mentoring pukul 06.00 WIB (dan sudah telat beberapa menit, maafkan)

Dimulai dengan membaca QS Al-Furqan ayat 33-77. Surat yang penulis pilih secara acak dan  ada tiga bookmark yang ditempelkan pada range ayat tersebut. 

bookmark di QS Al-Furqan

Ayat yang mengingatkan penulis bahwa dunia bukanlah segalanya, uang tak perlu dikejar sedemikian rupa, dan wanita bukanlah seorang yang harus penulis risaukan setiap hari.

"Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?" QS Al-Furqan ayat 43

Ada juga ayat yang mengingatkan penulis bahwa begadang untuk mengerjakan tugas - apalagi untuk hal lain - itu tidak selalu baik.

"Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha" QS Al-Furqan ayat 47

Dan terakhir, ayat yang mengingatkan penulis bahwa perlu usaha lebih jika ingin memiliki pasangan yang qurrota a'yun. Apa itu qurrota a'yun? Saat membaca ayat dibawah, penulis jadi teringat video Nouman Ali Khan.

"Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa" QS Al-Furqan ayat 74

Lagi, melalui mentoring ini, penulis diingatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Mentoring kemudian dilanjutkan dengan menanyakan kesibukan dan amanah mentee. Juga passion dan planning kedepannya mau kaya gimana, sampai akhirnya penulis menanyakan tentang amal harian - dimana di setiap pertanyaannya, penulis meringis kesakitan karena penulis tidak lebih baik daripada sang mentee. Introspeksi diri buat penulis, harus mulai banyakin amal harian lagi.

Mentoring pagi pun ditutup dengan ucapan hamdalah dan do'a penutup majlis. 

Akhir kata, banyak sekali hikmah yang penulis dapat, dan tidak menutup kemungkinan bahwa mentor tidak mendapatkan apapun dari mentee. Anggapan seperti itu hanya terjadi jika kita sombong dan tidak mau membuka diri. Penulis berdo'a, semoga kita selalu diberi kemampuan untuk mengambil setiap hikmah pada setiap kejadian yang ada di dunia ini - dari manapun, dari siapapun. Semua hidayah datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan kesalahan datangnya dari penulis yang hanya seorang manusia, tempatnya salah dan lupa.

Wa billaahi taufiq wal hidayah, 
Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh~



Wednesday, September 21, 2016

Aku ? Jadi Duta Islam?

Bismillaah....
Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh~

Kawan-kawan, tahukah bahwa kita-kita ini adalah duta Islam? Lalu, bagaimana seharusnya duta Islam bersikap dalam kehidupan sehari-hari?

Pada suatu hari, mentoring malam bersama kang A*** (beliau request untuk tidak disebut namanya) , diawali dengan tilawah dan kemudian cerita suatu peristiwa yang terjadi saat Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam memasuki kembali kota Makkah, yang biasa dikenal dengan peristiwa Fathu Makkah (bukan Fathul Azhar). 

Pada saat itu, penduduk Makkah sudah tidak dapat melakukan perlawanan dan merasa takut akan pembalasan Rasulullah atas perilaku mereka kepada beliau dulu. Dulu, penduduk Makkah pernah menghina, mencaci maki dan menganggap Rasul itu gila dan penyihir. Tidak hanya itu, Rasul juga dilempari batu, ditaruh kotoran dan benda tajam sepanjang perjalanan, diboikot, dan hampir dibunuh ketika beliau sedang tidur. 

Ketika Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam membereskan Ka'bah dan isinya, kaum Quraisy berkerumun menunggu keputusan Rasul. Beliau kemudian bersabda: 

"Wahai orang Quraisy, apa yang kalian bayangkan tentang apa yang akan aku lakukan terhadap kalian?”

Mereka menjawab:
“Yang baik-baik, sebagai saudara yang mulia, anak dari saudara yang mulia.” (Karena takut dibalas dengan perlakuan yang serupa, kaum Quraisy mencoba untuk memuji-muji Rasul)

Rasulullah kemudian membalas:
"Aku sampaikan kepada kalian sebagaimana perkataan Yusuf kepada saudaranya: ‘Pada hari ini tidak ada cercaan atas kalian. Allah mengampuni kalian. Dia Maha penyayang.’ Pergilah kalian! Sesungguhnya kalian telah bebas!"

Dan memang saat itu, di awal mentoring kami membaca Qur' an Surat Yusuf ayat 92 yang menceritakan tentang pemberian maaf dari Nabi Yusuf 'alaihissalaam kepada saudara-saudaranya. Betapa indahnya ketika kita saling memaafkan, saling toleran, dan mengingatkan - dengan cara yang baik, meskipun kepada orang yang berbeda agama dengan kita. Kepada non-muslim saja kita harus berlaku adil seperti kepada teman baik, apalagi kepada saudara kita sesama muslim.

===================================================================

Di zaman sekarang, banyak sekali diantara kita-umat muslim yang saling mengkafirkan dan membid'ahkan sesama muslim. Walaupun kita tahu dan harus tegas bahwa sesuatu memang bid'ah ataupu melanggar aturan Islam, bukan berarti kita dapat berlaku kasar kepada pelanggarnya. Bisa jadi karena perilaku umat muslim saat ini, ada seorang non-muslim yang hampir mu'allaf batal masuk Islam dan malah menjadi anti-Islam.

Tentu kita tahu bahwa Islam itu benar dan muslimnya lah-yang tidak merepresentasikan Islam dengan benar. Namun, kita tidak dapat memaksa orang lain untuk tidak melihat Islam dari diri kita. Karena setiap muslim itu adalah duta Islam, setiap muslim itu adalah cerminan Islam di mata non-muslim. Apa yang kita lakukan kepada sekitar kita, maka itulah Islam menurut mereka.

Maka dari itu, selain mempererat hubungan kita dengan Sang Pencipta, Allah juga memerintahkan kita untuk menjadi rahmatan lil 'alamin, berbuat yang makruf, menjauhi yang munkar. Menjalin hubungan yang baik juga terhadap sesama manusia dan alam sekitar, itulah Islam. Sebagaimana Firman Allah subhanahu wa ta'ala pada Al-Qur' an:

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Ali-Imran : 104)

Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam juga diutus untuk memperbaiki akhlak manusia. Dengan perangai beliau yang luar biasa, patutlah beliau diberi gelar manusia terbaik. Dan mungkin, atas izin Allah, Islam dapat mudah diterima oleh kaum non-Islam di masa itu karena sang Al-Amin lah yang membawakannya, dan mencontohkan akhlak yang terbaik yang dapat dimiliki seorang manusia. Menjenguk orang sakit yang suka menyakiti beliau, menyuapi makan orang buta yang mencaci beliau, dan menolak tawaran malaikat menimpakan gunung kepada kaum yang melemparinya batu - bahkan mengampuni juga mendoakan mereka.

Dakwah berarti mengajak, mengundang untuk datang - dan suatu undangan tidak sepatutnya dilakukan secara kasar ataupun secara paksa. Bila dipaksakan, yang terjadi hanyalah pemberontakan dan rasa tidak suka yang lama-kelamaan menjadi bumerang bagi sang pengajak.

Memang setiap orang memiliki perannya masing-masing, ada yang memiliki passion untuk mencari ilmu Islam, ada juga yang memiliki passion untuk menyebarkan indahnya Islam. Semua memiliki nilainya sendiri yang hanya diketahui oleh Allah. Yang bisa kita lakukan adalah saling mendukung satu sama lain agar terciptanya kejayaan Islam di bumi ini, In Syaa Allaah...

Akhir kata, semoga kita dimudahkan dan tidak menyia-nyiakan untuk berpartisipasi dalam menegakkan Islam. Adapun apabila ada redaksi yang diragukan kebenarannya, saya sebagai penulis merasa sadar akan kurang ilmu dan meminta saran, masukkan, maupun komentar terhadap tulisan ini agar tercipta tulisan yang lebih baik kedepannya.

Wallaahu a'lam

Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh